Kamis, 21 Agustus 2008
Science
Negara Maju Ajukan Proposal Teknologi Ramah Lingkungan
Kamis, 6 Desember 2007 - 19:19 wib
NUSA DUA - Pelaksanaan Konvensi PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCC) semakin bergerak ke arah positif. Negara-negara maju telah mengajukan proposal mengenai transfer tekonologi ke negara-negara berkembang untuk mengatasi perubahan iklim.
Demikian disampaikan Sekretaris Eksekutif Konvensi PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCC) Yvo de Boer dalam konferensi pers di Bali International Convention Center, Nusa Dua, Bali, Kamis (6/12/2007). "Pergerakannya semakin ke arah positif," kata de Boer kepada wartawan.
Pada hari kelima konferensi ini, sejumlah negara telah mengajukan proposal mengenai teknologi ramah lingkungan dapat diterapkan di negara berkembang. Negara itu diantaranya Uni Eropa, Jepang, China dan Brazil.
Menurut de Bour, transfer teknologi mendesak diterapkan karena negara berkembang yang mengalami dampak paling serius dari perubahan iklim. Karena itu, de Bour juga mengatakan sedang merancang peta jalan (road map) mekanisme kerja sama antara negara maju dan negara berkembang.
Dia menekankan, negara kaya harus mendukung negara berkembang. Mekanisme pasar harus dapat membantu proses pengurangan emisi. "Negara industri harus memotong emisi gasnya,? katanya.
Dia menambahkan, lambatnya penerapan Protokol Kyoto di masing-masing negara terkait mekanisme di pemerintahan. ?Adanya perbedaan di kalangan pemerintahan kadangkala membuat efektivitas kebijakan tentang perubahan iklim lambat,? katanya. (Miftachul Chusna/Sindo/srn)
Demikian disampaikan Sekretaris Eksekutif Konvensi PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCC) Yvo de Boer dalam konferensi pers di Bali International Convention Center, Nusa Dua, Bali, Kamis (6/12/2007). "Pergerakannya semakin ke arah positif," kata de Boer kepada wartawan.
Pada hari kelima konferensi ini, sejumlah negara telah mengajukan proposal mengenai teknologi ramah lingkungan dapat diterapkan di negara berkembang. Negara itu diantaranya Uni Eropa, Jepang, China dan Brazil.
Menurut de Bour, transfer teknologi mendesak diterapkan karena negara berkembang yang mengalami dampak paling serius dari perubahan iklim. Karena itu, de Bour juga mengatakan sedang merancang peta jalan (road map) mekanisme kerja sama antara negara maju dan negara berkembang.
Dia menekankan, negara kaya harus mendukung negara berkembang. Mekanisme pasar harus dapat membantu proses pengurangan emisi. "Negara industri harus memotong emisi gasnya,? katanya.
Dia menambahkan, lambatnya penerapan Protokol Kyoto di masing-masing negara terkait mekanisme di pemerintahan. ?Adanya perbedaan di kalangan pemerintahan kadangkala membuat efektivitas kebijakan tentang perubahan iklim lambat,? katanya. (Miftachul Chusna/Sindo/srn)
BeLOG
Cerpenista: Cerita Bersambung 'Keroyokan'
Seorang penulis mengarang cerita pendek itu sudah biasa. Tapi, kalau beberapa penulis sekaligus bersama-sama membuat sebuah cerita pendek itu baru luar biasa. Begitulah yang terjadi di situs Cerpenista.
WIRED WORLD?
Usia 102 Tahun, Suka Facebook dan Wii
Seorang nenek berusia 102 tahun telah menjadi anggota Facebook paling tua. Tidak hanya ber-Facebook ria, ia pun ingin sekali mencoba Nintendo Wii.
BERITA LAINNYA
-
Rabu, 20/08/2008 12:08
Google Investasi USD10 Juta untuk Teknologi Geotermal
-
Selasa, 19/08/2008 11:08
Iran Selangkah Lagi Luncurkan Satelit
-
Sabtu, 16/08/2008 14:08
Satelit Lokal Jepang Pertama Diluncurkan
-
Jum'at, 15/08/2008 11:08
6 WNI Raih Leading Scientist-Engineer OIC Member States
-
Kamis, 14/08/2008 08:08
Planet Mars Sulit Dukung Kehidupan
