TelkomFlexi Tidak Ikutan - techno.okezone.com
o1 o2

Techno - Telecommunication


Perang Tarif Terus Berlanjut (2)

TelkomFlexi Tidak Ikutan

Jum'at, 4 Januari 2008 - 13:01 wib
text TEXT SIZE :  
Share
Trust -

JAKARTA - Kiat menghadirkan tarif murah, kelihatannya, akan diterapkan pendatang baru lainnya. PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (STI) misalnya. Soalnya, menurut Suwito, Senior Manager Inter Carrier & Regulatory STI, hingga tahun depan, perusahaannya masih mengincar pelanggan di pedesaan, utamanya di Pulau Sumatra. Merek dagang Ceria memang baru berada di wilayah pelosok Lampung, Sumsel, Jambi, Riau, Sumut, Aceh, Bali, Lombok, Jatim, Jateng, dan Jabar.

Untuk pelanggan "ndesonya? itu, operator telepon tetap nirkabel (FWA) berteknologi CDMA ini hanya mengenakan tarif Rp 100 per menit antarsesama pengguna Ceria di satu provinsi. Sementara, tarif lintas operator yang dibanderol perusahaan milik konglomerat Putra Sampoerna itu masih sebesar Rp 350 per menit. "Tarif murah itu kami pasang karena konsumennya masyarakat pedesaan,? ujar Suwito. Ia mengakui, tarif tersebut masih disubsidi oleh STI. "Biarlah, yang penting daerah pelosok bisa lekas maju,? tuturnya.

Saat ini, total pelanggan Ceria memang masih kecil, hanya sekitar 300 ribu nomor. Sekitar 10% terkonsentrasi di sekitar tambak udang Dipasena. Tahun depan, jumlah itu ditargetkan akan bertambah mencapai 750 ribu pelanggan. Sebuah target yang terlalu muluk, jika melihat berbagai kendala teknis di lapangan yang dialami Ceria. Betapa tidak? Untuk membangun BTS misalnya, operator ini "dipalak? sejumlah pemda dengan dalih pungutan APBD. Selain itu, frekuensi 450 MHZ yang digunakan masih belum bersih lantaran bersinggungan dengan frekuensi TNI dan Polri.

Bagaimana sikap operator besar? Untuk mengimbangi agresivitas para pendatang baru itu, tahun depan, PT Telkom akan lebih fokus dalam mengembangkan TelkomFlexi. Pangsa pasar telepon FWA ini, akan digenjot dari 54% pada tahun ini menjadi 60%. Sebagai market leader, Telkom tampaknya tak terlalu risau dengan perang tarif. "Kendati tahun depan persaingan akan semakin ketat, kami tak ingin ikut-ikutan perang tarif. Kami lebih memilih untuk meningkatkan kualitas layanan,? kata Eddy Kurnia, VP Public & Marketing PT Telkom.

Terlepas dari persaingan tarif, tahun depan, industri seluler diprediksi akan tumbuh hingga 20%. Kamilov Sagala, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) melihat, dari target pelanggan sebanyak 90 juta nomor tahun depan, potensi pertumbuhan pelanggan FWA maupun seluler berteknologi CDMA akan jauh lebih pesat ketimbang GSM. "Lisensinya mudah, teknologinya tak kalah dengan GSM dan mereka bisa menawarkan tarif lebih murah,? ujarnya beralasan.

Uniknya, Kamilov menampik anggapan sejumlah operator seluler--terutama operator dominan--yang menyatakan persaingan antaroperator sudah semakin sehat. Alasannya, tarif seluler saat ini sudah kompetitif. "Apanya yang kompetitif. Itu hanya akal-akalan. Masih ada kartel yang mengenakan tarif seragam antaroperator. Saya harap, tahun depan, kami bisa menindaklanjuti masalah ini,? ucapnya ketus. (srn)

Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terikini lewat http://m.okezone.com
Dapatkan okezone launcher untuk BlackBerry http://bb.okezone.com/okezone.jad 
Share
o1 o2
o1 o2

0 komentar




o1 o2
o1 o2

Berita Lainnya

o3 o4