(foto: Sarie/Okezone)
JAKARTA -Tarif ritel telepon lokal (telepon rumah dan telepon tetap nirkabel/ FWA) akan naik rata-rata Rp140/ menit jika pemerintah melepas subsidi layanan tersebut. Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) mencatat rata-rata tarif ritel lokal yang dikutip sekarang ini adalah Rp173/ menit.
Direktur Jenderal Pos dan Telekomunikasi Depkominfo Basuki Yusuf Iskandar menjelaskan, kemungkinan pelepasan subsidi tersebut terkait rencana penurunan biaya interkoneksi sebesar 30% yang dapat berujung pada kenaikan tarif lokal. "Kita siapkan dua skenario terkait dampak penurunan biaya interkoneksi pada tarif lokal,? ujarnya saat konferensi pers serah terima Alat ukur RnD Telekomunikasi di Gedung Postel Jakarta, Selasa (29/1/2008).
Skenario pertama adalah menaikan tarif lokal karena subsidi dihilangkan dan kedua mempertahankan besaran yang berlaku sekarang dengan catatan subsidi tidak dilepas. Skenario mana yang akhirnya dipakai, Basuki menjanjikan keputusannya akan keluar akhir Januari ini dalam bentuk surat Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) yang kemudian diserahkan pada Menkominfo M Nuh.
Biaya interkoneksi merupakan salah satu variabel yang memengaruhi besaran tarif ritel telepon, baik seluler maupun lokal. Pemerintah berharap dengan pemangkasan biaya interkoneksi, operator seluler akan secara inisiatif menurunkan tarif ritel seluler lintas operator. Menurut perhitungan Menkominfo, tarif ritel seluler lintas operator berpotensi turun 10-30% dari kutipan yang berlaku sekarang akibat penurunan biaya interkoneksi 30%.
Sedangkan dampaknya pada tarif lokal, pemerintah tidak mungkin berekspektasi serupa. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) sudah menyatakan tidak akan menurunkan tarif lokal meski biaya interkoneksi dipangkas.
Direktur Utama Telkom Rinaldy Firmansyah beberapa waktu lalu malah berharap pemerintah menaikan formula tarif lokal. Dia menjelaskan, setiap tahun Telkom terpaksa menyubsidi operasi telepon lokal dari keuntungan sambungan langsung jarak jauh (SLJJ) agar layanannya tetap dapat berlangsung.
"Setiap tahun SLJJ menyubsidi telepon lokal sekitar 20-30%,? imbuhnya. Secara perlahan, Rinaldy berharap subsidi atas telepon lokal terus menyusut sampai akhirnya tidak ada. Karenanya, penurunan tarif telepon lokal sementara ini tidak dimungkinkan.
Menambahkan, Vice President Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia mengharapkan, pola subsidi silang pada tarif ritel lokal tidak lagi terjadi di 2008. "Penurunan tarif Interkoneksi harus dibarengi penghapusan subsidi silang untuk ritel lokal,? tuturnya kemarin.
Basuki sendiri belum berani mematikan realisasi keinginan Telkom karena kemampuan beli masyarakat harus menjadi pertimbangan utama dalam menaikan tarif telepon lokal. "Untuk memutuskan akan menggunakan skenario yang mana, kita harus benar-benar mempertimbangkan aspek teknis dan implikasi sosial,? tutur Basuki.
Dia mengungkapkan, masing-masing skenario yang disiapkan tadi mempunyai dampaknya sendiri. Dijelaskan, jika pemerintah mengambil skenario pertama yang berarti tarif lokal naik, implikasi sosial yang harus dilihat adalah kemampuan beli masyarakat. Namun, di sisi lain, jika tarif lokal naik, berarti operasionalnya tidak perlu lagi disubsidi dari keuntungan SLJJ seperti yang terjadi selama ini.
Basuki menerangkan, praktik subsidi silang dapat menimbulkan distorsi karena tidak mencerminkan kondisi industri yang sesungguhnya. Tetapi, pemerintah masih membuka kemungkinan keberlanjutan praktik subsidi silang ini jika skenario dua yang dipilih. "Tarif lokal dipertahankan tetapi subsidi belum dilepas,? imbuh Basuki. (srn)
Dapatkan okezone launcher untuk BlackBerry http://bb.okezone.com/okezone.jad