o1 o2

Techno - Science


Teleskop Raksasa Beroperasi

Minggu, 9 Maret 2008 - 11:29 wib
text TEXT SIZE :  
Share
sindo -
Teleskop Raksasa (Foto: Ist)

SALAH satu teleskop raksasa di dunia, yaitu Large Binocular Telescope (LBT) pada awal bulan ini mulai beroperasi. Terletak di puncak pegunungan Mount Graham,Arizona, AS, LBT mampu memotret objek-objek antariksa yang berjarak jutaan tahun cahaya dari Bumi.

LBT merupakan teleskop yang diklaim mampu menghasilkan gambar beresolusi sepuluh kali lebih tinggi daripada teleskop Hubble yang melayang di antariksa. LBT dilengkapi dua lensa, masing-masing berdiameter 8,4 meter. Pembangunan LBT memakan biaya USD120 juta. Pengelola LBT mengakui, biaya pembangunan LBT memang sangat besar. Namun, pengelola LBT meyakini, investasi itu sepadan dengan hasil yang dibuahkan LBT.

Tim ilmuwan LBT mengungkapkan, foto pertama yang dihasilkan LBT adalah foto sebuah galaksi spiral yang berjarak 102 juta tahun cahaya dari Bumi. Satu tahun perjalanan cahaya setara dengan 9,5 triliun km. Kendati memiliki lensa berdiameter 8,4 meter, LBT bukan teleskop terbesar di dunia pada saat ini. Teleskop terbesar di dunia pada saat ini adalah Keck Observatory di Hawaii.

Teleskop tersebut dibangun selama sembilan tahun dan selesai pada 2003. Teleskop itu memiliki lensa ganda, masing-masing berdiameter sekitar 11 meter. Namun, teleskop-teleskop lain yang jauh lebih besar daripada Keck Observatory kini juga sedang dipersiapkan. Teleskop raksasa yang akan dibangun antara lain Giant Magellan Telescope (GMT).

GMT akan dibangun di Las Campanas, Chile, pada 2016. Pengelola proyek GMT mengungkapkan, pembangunan teleskop itu akan menelan biaya sekira USD500 juta. GMT akan dilengkapi lensa berdiameter sekitar 27 meter. "Kita hampir tidak tahu apa-apa mengenai asal mula alam semesta. GMT akan mampu melihat pembentukan bintang, galaksi, supernova, dan bahkan black hole," ujar Direktur Carnegie Observatories, Wendy Freedman, ketua dewan pembangun GMT.

Teleskop raksasa lain yang akan dibangun adalah Thirty Meter Telescope (TMT). TMT diperkirakan menelan biaya sekira USD780 juta dan dilengkapi lensa berdiameter sekira 30 meter. Pengelola belum menemukan lokasi yang tepat untuk membangun TMT. Namun, mereka berjanji TMT akan mulai dibangun pada 2018. Eropa tidak ingin tertinggal.

Karena itu, negara-negara Eropa bekerja sama membangun European Extremely Large Telescope (EELT). Teleskop tersebut akan dibangun dengan biaya sekira USD1,17 miliar dan dilengkapi lensa berdiameter sekira 46 meter. Sebelumnya, EELT direncanakan memiliki lensa berdiameter sekira 109 meter.

Diameter lensa EELT harus dipangkas karena biaya pembangunan terlalu besar. EELT akan dikelola European Southern Observatory (ESO), yang sudah memiliki sebuah teleskop raksasa di Chile. EELT diperkirakan selesai dibangun pada 2018 namun pengelola belum menemukan lokasi yang tepat untuk membangun EELT.

Di antara tiga teleskop raksasa yang akan dibangun itu, kandidat favorit adalah EELT yang dikelola ESO. EELT diperkirakan akan mampu menghasilkan gambar 100 kali lebih tajam daripada teleskop darat terbaik yang ada saat ini.

"Kami berharap mampu menjawab pertanyaan berikut: Apakah kita sendirian di alam semesta? Serta bagaimana sifat-sifat material dan energi alam semesta?" tutur Outreach Scientist ESO Henri Boffin.

Ketika EELT sudah beroperasi, teleskop Hubble yang dikelola NASA, diperkirakan tidak akan berarti lagi dalam eksplorasi antariksa. Namun, NASA tidak ingin tertinggal. Karena itu, NASA segera menyiapkan sebuah teleskop angkasa luar yang baru. Yakni James Webb Space Telescope (JWST). NASA menyiapkan dana USD4,5 miliar untuk membangun teleskop tersebut. (mbs)

Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terikini lewat http://m.okezone.com
Dapatkan okezone launcher untuk BlackBerry http://bb.okezone.com 
Share
o1 o2
o1 o2

0 komentar

[+lihat komentar]


o1 o2
o1 o2

Berita Lainnya

o3 o4