JAKARTA - Bali Camp, yang dibangun pertama kali pada 1996 di sekitar Bedugul, Pulau Bali, merupakan pusat software development camp Sigma.
"Bali menjadi tempat yang berpotensi untuk menerima project luar (negeri), karena Bali dianggap sebagai wilayah yang exciting dan cocok untuk mengembangkan software di sana" tutur Head of Marketing & Communication, Abi S Panambang, beberapa waktu lalu di hotel Ritz-Carlton, kawasan Mega Kuningan.
"Kalau ditempatkan di sana, para pengembang menjadi lebih fokus, tidak perlu repot bolak-balik ke Jakarta, jadi di sana tempatnya benar-benar disiapkan untuk kerja," imbuhnya.
Abi juga menuturkan bahwa beberapa tahun sejak diresmikan, banyak proyek luar yang dikerjakan oleh Sigma, yang umumnya adalah pengembangan aplikasi, di antaranya berasal dari Kanada, Jerman, dan Amerika Serikat.
Namun, pengembangan proyek ini sempat tersendat akibat tragedi Bom Bali I dan II pada awal tahun 2000-an. "Sejak itu, arus proyek dari luar berhenti, bahkan kami pernah tidak menerima proyek dari luar satupun, kebanyakan proyek dari klien lokal yang tersisa, ada perusahaan asuransi, banking, dan lainnya," ucap Abi.
"Pada 2004, kantor Bali Camp pun sementara dipindahkan ke Jakarta karena Bali dianggap belum kondusif ketika itu,"
tambahnya.
Sekarang, setelah mempertimbangkan banyak hal, hari ini Sigma mengatakan siap untuk merelokasi Bali Camp kembali ke tempat asalnya. "Pertimbangan besarnya adalah pengembangan software di Jakarta dinilai kurang efisien. Pertimbangan lain, kami melihat opportunity proyek dari luar mulai berdatangan lagi," kata Abi.
"Saat ini, sudah ada beberapa proyek dari perusahaan multi-nasional, totalnya ada empat perusahan, senilai USD500.000," kata Sutjahyo menambahkan. Sayangnya, Sutjahyo belum bisa memaparkan siapa saja yang menjadi klien barunya tersebut. Namun, ia mengatakan Sigma menargetkan 12 proyek untuk Bali Camp hingga akhir tahun ini, baik proyek lokal maupun asing.
"Langkah awal, kami (Sigma) akan merenovasi fisik gedung, mengimplementasi teknologi nirkabel yang tadinya kabel, menyiapkan tele-conference supaya hubungan dengan kantor Sigma Jakarta lebih mudah, dan menginstal Vsat untuk koneksi internet," papar Head Of Operation Sigma sekaligus Direktur Bali Camp, Sutjahyo Budiman, di tempat yang sama. "Investasi ulang ini menghabiskan sekira Rp7 milyar," imbuhnya.
Nantinya, menurut Sutjahyo, setelah Bali Camp rampung pada Juli mendatang, kantor Sigma di Jakarta akan menangani penuh proyek-proyek dari lokal, dan Bali Camp menangani proyek asing atau dari luar. "Setelah itu, kita akan coba kembangkan software development center di kota Bandung. Mungkin akan selesai pada kuartal akhir tahun ini," ujarnya.
Revenue Sigma yang perlahan-lahan meningkat, menurut Abi, setelah ada Bali Camp dan "Bandung Camp" akan terjadi pertumbuhan revenue pesat pada tahun ini dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2006, revenue perusahaan yang baru diakuisisi oleh Telkom ini mencapai USD22 juta. "Tahun lalu, revenue kami meningkat sekira 20 persen, mencapai USD27," kata Abi. Dia juga memaparkan bahwa kontribusi terbesar revenue Sigma berasal dari services, "seperti contohnya human resources management."
Sedangkan Bali Camp, Sutjahyo mengatakan bahwa segmen ini mampu berkontribusi 15 persen atau USD3,3 juta dari total USD27 juta. "Target kami, kontribusi Bali Camp untuk total revenue Sigma mampu meningkat USD60 persen, atau menjadi USD4,8 juta," ujar Sutjahyo.
Tahun ini, Sigma dengan percaya diri menargetkan double revenue dari yang didapatkan pada 2007 atau sekira USD54 juta. "Ya, kalau dibilang karena akuisisi Telkom, kami pun mengakuinya," Sedangkan, untuk segmen pasar, ke depannya Sigma kemungkinan besar adakan pendekatan dengan government, "tapi sementara ini masih wacana, belum ada perkembangan lebih lanjut sampai hari ini," tukas Abi.
(srn)