Selasa, 07 Oktober 2008

Telecommunication

JHL-40 Kolaborasi Boeing-SkyHook

Rabu, 23 Juli 2008 - 14:38 wib


TORONTO - Perusahaan pesawat terbang Boeing bekerja sama dengan perusahaan swasta asal Kanada SkyHook membuat balon udara JHL-40.

Balon udara ini berbeda dengan kebanyakan balon udara yang ada selama ini. Jika biasanya balon udara digunakan untuk keperluan pelesir atau mengambil gambar dari udara, JHL-40 lebih dari itu. Balon udara berbahan bakar gas helium ini digunakan untuk alat transportasi udara. Tidak tanggung-tanggung, JHL-40 mampu mengangkut beban seberat 40 ton. Angka ini lebih besar dari kapasitas yang mampu dibawa helikopter terbesar di dunia macam Mil Mi-26. Kendaraan berukuran raksasa ini diharapkan dapat mulai beroperasi secepat mungkin dari target awal, yakni pada 2012.

"Saat ini kami tengah berusaha memperoleh hak paten dari lembaga terkait.Kami berharap dapat menyelesaikan proyek ini sesegera mungkin," papar Presiden dan Kepala Operasi SkyHook International Pete Jess tanpa menyebut kapan tepatnya kendaraan angkut revolusioner buatannya menyapa bumi.

Menurut Jess, teknologi JHL-40 merupakan kombinasi antara helikopter dan balon udara.Karena itu,kendaraan ini dilengkapi dengan balingbaling seperti yang ada di helikopter. Hanya saja, baling- baling tersebut tidak dibuat di bagian atas, melainkan di samping seperti yang ada di pesawat terbang. Baling- baling itu berfungsi sebagai pengatur kecepatan, manuver, dan penyeimbang balon.

"Seperti balon udara, JHL-40 lepas landas dari permukaan bumi dengan menggunakan bahan bakar helium yang lebih ringan daripada udara. Setelah itu, laju balon akan diatur melalui baling-baling yang dikendalikan pilot dan co-pilot,? papar Jess. Jess mengklaim, kendaraan tersebut sangat ramah lingkungan karena tidak memerlukan banyak bahan bakar. JHL-40 dapat terbang sejauh lebih dari 350 kilometer tanpa mengisi ulang bahan bakar. Namun, Jess tidak merinci berapa banyak bahan bakar yang dibutuhkan untuk sekali terbang.

Jess menambahkan, kendaraan udara buatannya lebih cocok untuk mengangkut beban berat di daerah terpencil seperti hutan, laut, kutub, dan padang pasir. Dibandingkan kecepatan kendaraan udara bermesin seperti pesawat terbang dan helikopter, JHL-40 hanya mampu melaju dengan kecepatan 130 kilometer per jam. Jess berharap, ke depannya, kecepatan JHL-40 dapat terus dinaikkan.

"Saya kira dengan teknologi yang terus berkembang, hal itu bukan masalah utama," tuturnya. JHL-40 memiliki panjang 92 meter, lebar 66 meter, dan tinggi 36 meter.Nama JHL-40 sendiri diambil dari nama Jess yang kemudian ditambahkan dengan Heavy Lifter (alat pengangkat berat).

"Kami memproduksi kendaraan ini karena ada banyak permintaan. Daftar konsumen yang menunggu layanan kami sudah panjang," ungkap Jess. Boeing dan SkyHook akan berbagi tugas dalam proyek JHL-40. Boeing yang berbasis di Chicago, Amerika Serikat (AS) bertanggung jawab untuk pembuatan dan pengembangan. Di pihak lain, Sky-Hook bertugas untuk pengoperasian dan perawatan. (sindo//srn)

BeLOG

Beoscope: Situs Video Sharing ala Indonesia

Beoscope: Situs Video Sharing ala Indonesia Di tengah maraknya pengakses video sharing YouTube, sekumpulan anak negeri membuat situs yang sama agar ketergantungan terhadap konten asing menurun sedikit demi sedikit.

WIRED WORLD?

Asyik SMS, Masinis Celakai Penumpang

Asyik SMS, Masinis Celakai Penumpang Kecelakaan kereta api Metrolink yang menewaskan 25 orang dan melukai 135 orang di Los Angeles, California, pertengahan September silam disinyalir akibat kelalaian masinis, Robert Sanchez yang sedang asyik ber-sms.