Computer & IT


Data Center Sigma Kini Hadir di Surabaya

Kamis, 31 Juli 2008 - 09:12 wib
text TEXT SIZE :  
Muhammad Candrataruna - Okezone
Presdir Sigma Djarot Subiantoro

JAKARTA - PT Sigma Cipta Caraka, sebuah perusahaan penyedia solusi bisnis melalui ICT, baru saja secara resmi mengoperasikan data center di Surabaya. Ini merupakan data center ke-tiga yang diharapkan akan menunjang keberadaan dua data center sebelumnya di Jakarta dan Tangerang.

"Di masa depan, ICT menjadi sangat penting. Terima kasih untuk Sigma yang telah memberi antisipasi dengan digelarnya managed services center ke-tiga di Surabaya," kata Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil yang menyambut positif peran serta Sigma beserta solusi inovatifnya.

Dalam sambutan secara elektroniknya, Sofyan juga mengatakan industri saat ini diminta untuk segera memikirkan tidak hanya CAPEX tapi mulai bertransformasi menjadi OPEX dengan tujuan praktik bisnis yang efisien.

"Sudah waktunya kita beli atau sewa jasa dan layanan dari penyedia solusi ICT. Bukan waktunya lagi untuk investasi di ICT karena nanti pasti akan terlambat. Biarkan provider yang meng-update teknologinya," jelas Sofyan.

Data center yang oleh Sigma diberi nama managed services center menjadi pilar dari layanan sigma yakni Disaster Recovery Service (DRS), solusi implementasi manajemen risiko bagi perusahaan untuk memback-up data dan proses operasional bila terjadi bencana yang merusak.

Data center Sigma yang kabarnya telah melalui 400 kali ujicoba ini memiliki segmen pasar yang cukup luas. "Segmen kami adalah semua tingkatan dunia usaha. Kami tidak membatasi segmen yang ingin memakai data center Sigma," ucap Presiden Direktur PT Sigma Cipta Caraka Djarot Subiantoro di sela-sela jumpa media di Penang Bistro, Plaza Oakwood, beberapa waktu lalu, Kamis (31/7/2008).

"Kendati 60-70 persen klien kami adalah industri keuangan, ICT kini juga berperan penting di industri-industri lainnya, seperti misalnya industri manufaktur," lanjutnya.

Infrastruktur data center yang meliputi ruang mesin seluas 3.200m2 disinyalir memiliki ketahanan bangunan terhadap kekuatan gempa hingga 7,5 skala Richter.

Data center yang menurut Djarot memanfaatkan teknologi dari sejumlah vendor seperti HP, IBM, Dell, Oracle, dan lainnya, kabarnya memakan biaya investasi sekira USD12 juta.

"Angka ini akan berkembang. Investasi terkait dengan pasar, terutama infrastruktur dan peralatan yang perkembangannya akan sejajar dengan jumlah klien," terang Djarot.

Sementara ini, Djarot mengatakan, klien Sigma telah mencapai 70 klien dan terus bertambah. "Pertumbuhannya tidak tetap karena pasar Indonesia masih belum mature. Kalau secara rata-rata mungkin sekira 20 persen tiap tahunnya," tukasnya.

Penilaian Djarot tersebut didasarkan pada belanja TI di pasar ICT Indonesia yang masih relatif rendah. Dia memaparkan belanja TI di Tanah Air pada 2007 yang meliputi perangkat keras, perangkat lunak, dan layanan, adalah sekira USD2,2 milyar.

Dia menilai, jika dibandingkan dengan Amerika Serikat dan India yang belanja TI-nya masing-masing mencapai USD400 miliar dan USD20 miliar, Indonesia terlihat begitu jauh tertinggal.

"Di Indonesia, pertumbuhan tahun ke tahun-nya sekira 12 persen. Kalau tahun ini mengalami pertumbuhan yang sama dengan tahun sebelumnya, maka belanja TI di pasar ICT Indonesia hanya meningkat sekira USD200 juta. Tapi ada juga memprediksi bisa meningkat eksponensial menjadi USD3,1 miliar," pungkas Djarot. (srn)