Telecommunication


Pengelola Gedung Patok 2 Miliar, Telkom Sulit Tanam BTS

Rabu, 6 Agustus 2008 - 16:25 wib
text TEXT SIZE :  
Muhammad Candrataruna - Okezone

JAKARTA - Terkait masalah drop call, Telkom beralasan kalau persoalan tersebut muncul akibat sulitnya membangun kerja sama dengan sejumlah pengelola gedung-gedung bertingkat di kota besar.

Menurut Adeng, masalah drop call biasanya terjadi di basement gedung-gedung bertingkat yang mayoritas adalah gedung perkantoran.

"Kalau persoalan coverage di jalan raya, pelanggan tidak perlu kuatir. Tetapi di sejumlah gedung memang sering terjadi lemah sinyal atau drop call," aku EGM DIVRE II PT TELKOM Adeng Achmad, usai konferensi pers di kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta (6/8/2008).

Adeng melanjutkan, keluhan-keluhan bermunculan umumnya berasal dari pelanggan-pelanggan yang menghuni sejumlah gedung yang tidak memiliki jaringan Telkom.

"Dari 600 gedung bertingkat yang ada di Jakarta, 60 persen di antaranya memiliki sinyal Telkom Flexi yang kuat, sedangkan 40 sisanya belum ada kesepakatan antara pengelola dan pihak kami untuk membangun jaringan di sana," terangnya.

Adapun hambatan-hambatan yang dihadapi Telkom, kata Adeng, salah satunya adalah permintaan pengelola untuk menginstalasi jaringan di seluruh lantai gedung. "Padahal membangun di salah satu lantai saja sudah cukup untuk melayani pelanggan Flexi di gedung tersebut. Akibatnya masalah ini bermuara lagi di besarnya pengeluaran yang harus dianggarkan," tukas dia.

Hambatan lainnya yakni ada beberapa gedung di Jakarta yang mematok harga tinggi untuk biaya penyewaan ruang instalasi jaringan Telkom Flexi. "Belum apa-apa mereka menawarkan tarif sewa sekira Rp2 milyar per gedung. Itu jumlah yang besar, seharusnya perlu diadakan diskusi lagi untuk tarif sewa tersebut," Adeng menjelaskan usai peluncuran program promo tarif Flexi Gratis Nelpon 24 Jam.

Sayangnya, Adeng enggan membeberkan sejumlah nama-nama pengelola gedung dan gedung-gedung apa saja yang belum bekerja sama dengan Telkom Flexi. (srn)