JAKARTA - Pemerintah saat ini tengah mengupayakan kolaborasi triple helix antara Akademisi, Bisnis dan Government (ABG) dalam melakukan terobosan inovasi.
Upaya ini dirasa harus dilakukan mengingat begitu sulitnya mengaplikasikan hasil-hasill penelitian teknologi yang sudah begitu kompleks kedalam sektor bisnis, jika dilaksanakan secara linier.
"Semakin rumit dan kompleksnya upaya yang diperlukan dalam menerapkan hasil penelitian ke sektor industri menuntut adanya interaksi yang terus-menerus dari berbagai pihak, terutama melalui kolaborasi ABG," ucap Menteri Riset dan Teknologi, Kusmayanto Kadiman, saat membuka Konferensi Nasional Inovasi 2008, Hotel Borobudur, Rabu (6/8/2008).
Ia menambahkan, dengan adanya sinergi ini, kemandirian dan kedaulatan bangsa mampu diwujudkan. Untuk menekankan betapa pentingnya kolaborasi itu. Kusmayanto menggambarkan, bahwa paling tidak hingga saat ini masih ada perbedaan pola pikir mencolok yang terjadi antara penghasil inovasi (peneliti/akademisi) dengan pengguna inovasi (bisnis).
Menurut Kusmayanto, para peneliti biasanya memulai dengan hukum dan model-model matematis dengan rencana mini berskala laboratorium. Padahal hal ini masih memungkinkan terjadinya kesalahan-kesalahan dalam penelitian dan pengembangan.
"Sementara disektor industri lebih mengedepankan kepada nilai tambah yang dihasilkan dari pemanfaatan suatu inovasi. Untuk itu, pemerintah akan memanfaatkan konferensi tersebut untuk mengugah semangat segenap komponen bangsa untuk mendorong inovasi, membangun media komunikasi antar komponen Dalam konferensi itu, selain memupuk sinergisitas," papar Kusmayanto.
(srn)