Science


Polusi Jakarta Terburuk Setelah Bangkok dan Meksiko

Jum'at, 12 September 2008 - 11:21 wib
text TEXT SIZE :  

JAKARTA - Jakarta adalah kota paling buruk di dunia untuk masalah polusi. Dari data yang didapat KPBB, Jakarta pada 1992 menempati urutan ketiga setelah Bangkok dan Mexico City.

Kepala Dinas Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLHD) DKI Jakarta Budi Rama mengatakan, pelaksanaan car free day setiap pekan belum bisa dilaksanakan dalam waktu dekat ini. Sebab, saat ini belum ada alat berupa laboratorium bergerak. Padahal, pelaksanaan car free day memerlukan laboratorium bergerak untuk memonitor kualitas udara.

Alat yang saat ini dipakai masih meminjam dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Hal tersebut disebabkan BPLHD DKI Jakarta belum mampu membeli alat yang terbilang mahal tersebut.

"Kalau kita belum punya alatnya, sampai sekarang masih pinjam," tukasnya. Dari pelaksanaan car free day dalam beberapa bulan terakhir ini, Budi mencatat sudah ada 81 hari baik di Jakarta.

"Hingga Juni, hari baik di Jakarta mencapai 81 hari," ujarnya. Koordinator Komite Penghapusan Bensin Bertimbal Ahmad Safrudin mengatakan, Jakarta adalah kota paling buruk di dunia untuk masalah polusi. Dari data yang didapat KPBB, Jakarta pada 1992 menempati urutan ketiga setelah Bangkok dan Mexico City.

Namun, tahun ini diperkirakan Jakarta adalah yang pertama dibandingkan kedua kota yang menempati urutan teratas tadi. Ahmad yang akrab disapa Puput ini menambahkan, klaim BPLHD kalau Jakarta saat ini memiliki 81 hari baik tidak mendasar. Dari lima alat pantau polusi udara yang dimiliki BPLHD, hanya satu yang berfungsi.

"Sehingga sangat tidak mendasar jika BPLHD mengklaim Jakarta memiliki 81 hari baik," tuturnya.

Selain itu, Puput juga menyatakan tidak adanya alat untuk memantau kualitas udara sebagai kendala penerapan car free day setiap pekan, tidak beralasan. Saat ini banyak alat yang bisa digunakan dari departemen lainnya, selain milik Kementerian Negara Lingkungan Hidup.

"Departemen Pekerjaan Umum punya, terus ada juga swasta yang punya walaupun dengan bayaran. Tapi bayarannya sangat murah, sehingga bila memang akan dilaksanakan secepatnya maka itu bisa dilakukan," tuturnya. Puput menambahkan, hari baik yang ideal di Jakarta adalah 330 hari atau 10 bulan setiap tahun. (sindo//srn)

o1 o2

Berita Lain

BERITA LAINNYA
o3 o4