JAKARTA - Budaya iklan di telepon genggam (pongam) berbeda dengan di Jepang, ketika budaya mobile community sudah terbentuk. Sehingga penerimaan mereka terhadap mobile ad juga lebih bagus. Fitur-fitur di pongam juga mereka manfaatkan secara optimal.
Menurut Janoe, kalangan muda Jepang yang berumur 15-29 tahun sangat aktif menggunakan pongam untuk bertualang di dunia maya WAP. Pongam malah lebih sering mereka pakai ketimbang laptop atau PC biasa. Orang Jepang juga menyukai WAP karena harga pulsa yang murah dan CP yang mendukung. Mulai dari CP tentang informasi, news, hiburan, bahkan perjudian dan pornografi. Mereka dapat mengakses portal tersebut setelah melakukan registrasi terlebih dulu.
Kendala lain yang akan dihadapi industri mobile ad di sini adalah ketakutan konsumen akan terjadinya spamming (serbuan) SMS. Penelitian Dentsu menunjukkan, dari 1.600 responden (usia 15- 39 tahun), hanya 3% yang menerima positif SMS promo. Kebanyakan dari penerima SMS itu justru menghapus atau tidak menggubris SMS promo tadi. Betul, Janoe mengakui, penyebaran promosi lewat SMS memang cepat. Namun, sepertinya ada jurang budaya yang menghambat efektivitas layanan tersebut.
Kendati begitu, potensi mobile ad rupanya cukup membuat tergiur perusahaan sekelas PT Excelcomindo Pratama (XL). Operator seluler ini berniat membuat layanan mobile ad. I Made Harta Wijaya, salah seorang pejabat XL, mengaku percaya bahwa mobile ad dapat meningkatkan pendapatan operator, terutama dari layanan value added service (VAS).
Layanan VAS oleh kalangan operator seluler, di Indonesia, juga sedang berkembang. Made memperkirakan, perputaran uang di bisnis VAS bisa lebih dari Rp 1 triliun. XL sendiri bisa meraup Rp 400 miliar. Angka yang sangat besar. Kendati, jika dibandingkan dengan pendapatan total XL, maka nilainya hanya sekitar 4%. Tapi, Made percaya, mobile ad akan menjadi motor penggerak pendapatan bagi XL di masa depan.
XL akan meluncurkan layanan mobile ad berbasis SMS. Saat ini, Made mengaku sedang mempersiapkan infrastruktur pendukung dari layanan tersebut. Lantas, bagaimana dengan kecemasan akan spamming? Made mengatakan, setiap operator akan memiliki strategi tersendiri untuk menyiasatinya. Salah satu ide yang akan digagas adalah memberikan layanan SMS gratis kepada pemegang nomor ponsel yang mau menerima SMS promosi yang ditawarkan. (srn)