Getting Time...

Hilangkan Ketergantungan Dengan Energi Terbarukan

Sarie - Okezone
Kamis, 22 Mei 2008 10:22 wib
detail berita

JAKARTA - Kenaikan harga BBM menyadarkan kita betapa masyarakat di Indonesia, dan dunia, sangat bergantung pada energi minyak. Untuk itu saatnya masyarakat mulai berpikir untuk melepas ketergantungan dengan menggunakan energi alternatif dari energi terbarukan.

Renewable energy atau energi terbarukan merupakan energi alternatif yang cukup potensial yang diyakini dapat digunakan sebagai pengganti energi-energi utama. Jumlahnya yang tidak terbatas dan mudah didapatkan dimana saja merupakan salah satu keunggulan energi terbarukan.

Dikutip melalui Wikipedia, Kamis (22/5/2008), energi terbarukan secara efektif menggunakan sumber daya alam seperti panas matahari, angin, arus pasang di pantai atau segala macam sumber alam yang sifatnya dapat terisi kembali. Sedangkan teknologi energi terbarukan yang sudah mulai marak di dunia seperti solar power, wind power, hydroelectricity atau micro hydro, biomass dan biofuels untuk energi transportasi.

Sebenarnya energi terbarukan bukanlah hal baru. Pada tahun 2006 sekira 18 persen dari konsumsi energi global berasal dari energi terbarukan. Kontribusi paling berasal berasal dari energi biomassa seperti pembakaran kayu. Sedangkan hydropower merupakan energi terbarukan terbesar kedua yang digunakan oleh dunia sekira 3 persen. Kemudian diikuti oleh energi panas sekira 1,3 persen.

Teknologi modern seperti geothermal, angin, matahari dan laut, secara bersama-sama mampu menghasilkan sekira 0,8 persen konsumsi energi. Untuk itulah kemudian pemerintah Indonesia melalui Ristek dan BPPT membuat kebijakan untuk mengembangkan energi terbarukan ini.

Teknologi energi terbarukan sempat tidak diterima masyarakat karena energi yang dihasilkan dianggap sangat jarang dan penerapan teknologinya dianggap tidak efisien namun lama kelamaan pasar energi terbarukan mulai berkembang di beberapa negara. Bahkan negara Belanda menggunakan energi angin sebagai pembangkit listrik, tidak heran jika kemudian Belanda dikenal dengan negeri kincir angin karena memang negara tersebut sangat bergantung pada angin.

Energi angin telah digunakan di beberapa negara di Eropa dan Amerika dengan kapasitas yang dihasilkan mencapai 100 gigawatt. Lalu industri photovoltaic, yang banyak dikembangkan di Jerman mampu menghasilkan sekira 2000 MW per tahun dia 2006. Pusat energi panas matahari yang beroperasi di Amerika dan Spanyol mampu menghasilkan energi paling besar hingga 354 MW. Sedangkan pusat energi Geothermal memiliki kapasitas rata-rata sekira 750 MW.

Pada tahun 2007 persatuan pemimpin negara-negara Eropa sepakat untuk menggunakan energi terbarukan sebanyak 20 persen dari energi utama mereka hingga tahun 2020. Bahkan investasi untuk pengadaan energi terbarukan meningkat pesat. Pada tahun 2005 investasi yang dibutuhkan sekira USD80 miliar sedangkan pada tahun 2006 meningkat hingga USD100 miliar.

Energi angin merupakan energi pertama yang mampu menghasilkan sekira satu persen dari energi listrik dan disusul dengan energi matahari. Beberapa perusahaan seperti BP, GE, Sharp dan Shell telah menyadari potensi energi terbarukan. Bahkan mereka pun berinvestasi cukup besar untuk menyediakan dan mengembangkan teknologi energi terbarukan. (srn)

Beri komentar