Getting Time...

Kontroversi Peta Sejarah Jepang di Google Earth

Rachmatunnisa - Okezone
Senin, 4 Mei 2009 13:37 wib
Foto: gregman.com

TOKYO - Ketika Google Earth menambahkan peta sejarah Jepang dalam koleksi onlinenya tahun lalu, perusahaan mesin pencari terbesar di dunia maya ini tidak menyangka akan mendapatkan masalah.

Pasalnya, kini Google harus menghadapi perkara hukum karena dianggap melakukan tindakan diskriminasi. Sebenarnya, peta tersebut merinci lokasi bekas komunitas kasta bawah pada era feodal Jepang, demikian keterangan yang dikutip oleh 3news.com, Senin (4/5/2009).

Pada masa ketika Jepang dipimpin oleh pemerintahan Shogun, diterapkan sistem kasta yang sangat ketat dengan mengelompokkan masyarakat dalam tingkat-tingkat tertentu.

Kasta terendah ditempati oleh kelompok yang dinamakan "burakumin", kelompok ini dipaksa menempati daerah yang terisolasi karena mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan kematian seperti membunuh dan menguliti hewan serta menggali kuburan.    

Namun pada perkembangannya sistem kasta itu kemudian terhapuskan oleh kehidupan modern Jepang. Saat ini, dalam jumlah total 127 juta jiwa penduduk Jepang, tiga juta diantaranya adalah keturunan burakumin.

Ketika Google memposting peta ini tidak dilengkapi dengan penjelasan sejarah area yang ditampilkan, hal ini sebenarnya umum dan diperbolehkan oleh Jepang, namun nyatanya hal ini menimbulkan kemarahan pemimpin burakumin.

Menanggapi isu ini, juru bicara Google, Yoshito Funabashi memberikan tanggapannya melalui pernyataan resmi, "Kami sangat peduli akan hak asasi manusia dan sama sekali tidak ada maksud untuk melanggarnya," ujar Yoshito.

Yoshito pun menegaskan bahwa Google tidak memiliki maksud tertentu, namun hanya sekedar menyediakannya informasi bagi pengguna Google Maps.
(srn)

Beri komentar