PURWAKARTA - Saat ini pertumbuhan pendapatan Indosat di sektor IDD (Internasional Direct Dialing) atau SLI bisa dibilang jalan di tempat. Banyak faktor yang menyebabkan SLI lamban untuk memberikan keuntungan.
"Dari total keseluruhan pendapatan Indosat, sektor SLI hanya menyumbang di bawah 10 persen saja. Bahkan, itu terjadi selama beberapa tahun belakangan," ungkap Direktur Marketing Indosat Guntur S Siboro usai konferensi pers Indosat Wireless Inovation Contest (IWIC) 2009, di Jatiluhur, Purwakarta, Kamis (4/6/2009).
Ada banyak faktor yang menyebabkan SLI sulit untuk berkembang. Menurut Guntur, saat ini masyarakat Indonesia jarang yang mempunyai akses ke luar negeri. Sehingga, banyak dari mereka yang jarang atau bahkan sama sekali tidak pernah melakukan panggilan ke luar negeri.
Jadi menurutnya, SLI bukan pada aspek murah semata, melainkan lebih pada kualitas yang ditawarkan. Apalagi kebanyakan dari pengguna SLI berasal dari sektor korporat atau perusahaan besar yang mempunyai jaringan bisnis di luar negeri.
"Jadi kalau ada yang menawarkan lebih murah 75 persen, buat apa? Toh jarang juga pengguna yang menggunakan telepon ke luar negeri," sindir Guntur.
Perlu diketahui, persentase keuntungan Indosat berasal dari 10 persen IDD, 75 persen lebih berasal dari wireless, sedangkan fixed data memberikan kontribusi tidak kurang dari 15 persen.
Ditambahkan juga, kebanyakan dari pengguna SLI Indosat, lebih sering menggunakan sambungan internasional ke Malaysia, Singapura, Hong Kong, China, Amerika Serikat, dan lain sebagainya. (srn)