WELLINGTON - Melalui program One Laptop Per Child (OLPC) atau satu laptop untuk satu anak, sebanyak 30 negara di pulau Pasifik menerima 1.000 laptop. Program ini diharapkan akan meningkatkan kegiatan belajar mengajar yang lebih efektif di sekolah dasar.
Dikatakan oleh Secretariat of the Pacific Community Laptop Coordinator, Ian Thomson, bahwa proyek OLPC ini dikatakan akan mengubah cara orang mengajar.
"Kebanyakan cara belajar saat ini menggunakan sistem yang seluruhnya berpusat pada pengajar, dimana pengajar memberikan informasi dan siswa hanya menyimak dan mendengarkan," kata Thomson seperti yang dikutip dari Xinhua, Selasa (16/6/2009).
"Dengan menggunakan laptop, setiap anak akan dipancing untuk berpikir. Ini akan mengubah sistem pembelajaran menjadi berpusat pada siswa dan pengajar sebagai pembimbingnya," tambah Thomson.
Selama sembilan bulan, proyek ini telah mendistribusikan laptop dan memperbaharui pengajaran di sekolah-sekolah dasar di Papua New Guinea, kepulauan Solomon, Vanuatu, Niue dan Nauru.
Tahun ini Thomson berencana untuk menambah delapan negara lagi untuk mengintegrasikan laptop ke dalam program belajar mengajar. Delapan negara yang menjadi sasaran OLPC ini yaitu kepulauan Marshall, Federated States of Micronesia, Palau, Tonga, Fiji, Tokelau, Tuvalu dan Samoa.
Program ini sengaja hanya menargetkan sedikit sekolah di setiap kepulauan sehingga setiap siswa dan pengajar yang menerima laptop dapat lebih terkontrol.
Setiap laptop memiliki kisaran harga sebesar USD189. Komputer jinjing ini dijalankan dengan sistem operasi open source. Di dalamnya termasuk pula peranti lunak untuk permainan, puzzle, musik, multimedia, kamus dan ensiklopedia. (srn)