BALIKPAPAN - Untuk Pertama kalinya di Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (PPPTMGB) 'LEMIGAS' dengan Total E&P Indonesie melakukan studi kelayakan program teknologi Carbon Capture and Storage (CCS).
Penelitian ini dilakukan untuk mengurangi emisi CO2 di Indonesia dengan cara menginjeksi gas karbon ke dalam bumi. Studi ini berlangsung di wilayah Kalimantan Timur selama tiga (3) tahun ke depan.
Di dunia, Penerapan Teknologi CCS mulai terjadi pada decade 80?an yang lebih dahulu dilakukan oleh sejumlah Negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, Prancis, Norwegia. Namun sejuah ini Negara berkembang yang kini lebih banyak menghasilkan CO2 belum ada yang mengembangkan riset dan apalagi penerapan teknologi CCS.
"Di Norwegia, jika industrinya menghasilkan CO2 di atas 10 persen maka dikenakan tax Carbon yang tinggi. Namun bagi yang bisa meminimalisir CO2 diberikan insentif. CCS Norwegia sudah sangat dikenal, di sini baru pada pengenalan dan riset," ujar Djoko Rusdianto Geoscience Business Development Total Indonesie, dalam seminar pemanfaatan Teknolgi CCS di Balikpapan.
Menurut Djoko, teknologi CCS ini merupakan salah satu cara untuk mengurangi emisi CO2 yang merusak lapisan ozon (efek rumah kaca).
Namun sayang, dalam perkembangannya terkendala pendanaan dan hingga kini masih dalam perdebatan. Selain itu manfaat dari teknologi CCS ini bisa meningkatkan produksi migas baik di lapangan sumur-sumur tua maupun di lapangan migas yang baru.
"Peningkatannya sekitar 10 persen jika kita manfaatkan teknologi CCS ini," katanya.
Peneliti dari Lemigas, Leti Brioleti mengatakan CO2 tidak hanya dihasilkan dari pengoboran kilang migas tapi juga bersumber dari indsutri baja, semen, petro chemical, LNG, Automotiv, pembakaran hutan, Biomass, juga perumahan.
Khusus lapangan migas di Indonesia, diperkirakan emisi CO2 terbesar berada di lapangan migas Natuna (60% CO2), Jawa (20%), Kalimantan (14%), dan Sumatra (12%) dan Papua (2%).
Terkait dengan penilitiannya di Kaltim bersama Total Indonesie, Leti menjelaskan tahap awal adalah melakukan pemetaan titik-titik mana saja di Kaltim untuk diterapkan teknologi CCS guna meningkatkan perolehan minyak. Kedua adalah mencari tahu kemampuan formasi geologi dalam menyimpan CO2.
"Pengkajian sifat-sifat batuan dan fluida resrvoar dan pengkajian pengaruh injeksi CO2 terhadap perubahan sifat-sifat bebatuan. ini hal-hal teknis yang akan kita lakukan," ujar Leti.
Selanjutnya kajian ketiga adalah pemodelan geologi dengan simulasi reservoar(bebatuan yang menyerap dan menyimpan minyak).
"Penelitian yang terakhir ini untuk mengetahui kapasitas penyimpanan CO2 pada formasi geologi skala lapangan dan informasi peningkatan perolehan minyak akibat injeksi CO2," tambahnya. (srn)