WASHINGTON - Pemilihan Presiden (Pilpres) ternyata tak hanya berdampak pada perubahan peta politik di suatu negara. Tapi pilpres juga diketahui mempengaruhi hormon para pemilih, terutama hormon testosteron para pemilih pria.
Hal tersebut merupakan hasil sebuah studi di Duke University yang dilakukan sebelum dan sesudah pemilihan presiden Amerika Serikat ke-4, 4 November 2008.
Studi dilakukan dengan mengambil sampel saliva atau air liur sebelum dan sesudah pilpres dari 57 pria berusia muda.
Seperti dilansir Times of India (29/10/2009), hasil studi menunjukkan bahwa peningkatan level hormon testosteron para pendukung Barack Obama yang merupakan pemenang pemilihan umum terlihat stabil. Hal itu berbeda dengan kondisi hormon testosteron para pendukung John McCain. Level hormon testosteron pemilih McCain terlihatan turun.
Studi juga melakukan penelitian terhadap sekira 106 perempuan. Tapi, hasilnya sangat jauh berbeda dengan para pria. Level hormon pada perempuan tak berpengaruh oleh peristiwa politik, seperti pilpres.
Studi yang akan dipublikasikan di jurnal kesehatan, Plos One ini membuktikan bahwa pemilu mampu mempengaruhi kondisi biologis pria.
Testosteron adalah hormon steroid dari kelompok androgen. Penghasil utama testosteron adalah testis pada pria dan indung telur (ovarium) pada perempuan.Meski begitu, sejumlah kecil hormon ini dapat juga dihasilkan oleh kelenjar adrenal. Hormon ini merupakan hormon seks jantan utama dan merupakan steroid anabolik.
Testosteron memegang peranan penting bagi kesehatan. Fungsinya antara lain adalah meningkatkan libido, energi, fungsi imun, dan perlindungan terhadap osteoporosis. Secara rata-rata, pria dewasa menghasilkan testosteron dua puluh kali lebih banyak dari pada betina dewasa. (rah)