Satelit LAPAN Tubsat
JAKARTA - Sejak diluncurkan pada 2007 silam, satelit mikro pertama milik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) bernama Tubsat telah memberikan banyak manfaat terutama dalam penginderaan jauh serta telekomunikasi bagi pemantauan pertanian dan kelautan Indonesia.
"Hingga saat ini kondisinya masih sangat baik. Tubsat menjadi satu-satunya satelit di dunia yang menghadirkan data berupa video, yang ditayangkan secara langsung," kata Kepala Lapan Adi Sadewo Salatun saat ditemui okezone di kantornya, Senin (9/11/2009).
Adi menyebutkan, jika menggunakan satelit biasa membutuhkan waktu hingga 15 hari untuk menerima gambar. Tubsat memiliki kelebihan menghadirkan data dalam bentuk video dan dihadirkan langsung pada saat kejadian (real time).
Beberapa hasil video rekaman Tubsat yang sangat berguna di antaranya, rekaman pada saat terjadi letusan gunung merapi, pembangunan jembatan Suramadu, serta hasil rilis informasi jalur pulang kampung lebaran silam.
Satelit Tubsat dengan ukuran 44x44x25 cm dan berat sekira 57 kg ini memiliki rute perputaran secara polar empat kali dalam 24 jam.
Selanjutnya, pada 2011 Lapan segera meluncurkan satelit kembar atau TWINSAT untuk kebutuhan komunikasi ketika bencana. Salah satu dari satelit kembar ini adalah satelit (Organisasi Amatir Radio Republik Indonesia) ORARI.
Satelit ini memiliki kamera surveillance (pengamatan) yang dapat diarahkan secara mandiri. Dengan penggunaan satelit kembar, keandalan data yang diperoleh akan lebih tinggi.
Rencananya, satelit kembar akan membonceng atau istilahnya piggybacking menggunakan roket Indian Space Research Organization (ISRO) pada ketinggian 650 km dengan sudut inklinasi yang sesuai dengan posisi geografis Indonesia, yaitu enam derajat. Satelit kembar memiliki berat total 140 kg, dimana berat dari masing-masing satelit adalah 70 kg. (rah)
Dapatkan okezone launcher untuk BlackBerry http://bb.okezone.com