Getting Time...

Indonesia Masih Butuh Infrastruktur Wireline

Stefanus Yugo Hindarto - Okezone
Kamis, 12 November 2009 18:02 wib
detail berita
Ketua Mastel Setyanto P Santoso (foto: Indosat)

JAKARTA - Pemerintah didesak untuk terus mengembangkan infrastruktur wireline bagi masyarakat. Karena selama lima tahun terakhir, pemerintah terlalu menggantungkan pada wireless broadband untuk akses internet.

"Lima tahun pemerintah sangat menggantungkan pada wireless broadband. Sekarang sudah saatnya, pada kepemimpinan Menkominfo Tifatul Sembiring, pemerintah membangun wireline broadband, entah fiber optic atau kabel tembaga, ke rumah-rumah," ujar ketua umum Masyarakat Telematika (Mastel) Setyanto P Santosa kepada Okezone, Kamis (12/11/2009).

Dikatakan Setyanto, pengembangan infrastruktur wireless broadband sudah dilakukan oleh swasta, dan kini sudah saatnya pemerintah yang mengembangkan fixedline.

"Sekarang yang ada kan di rumah-rumah hanya telepon, nantinya broadband pun demikian," kata Setyanto.

Dicontohkan Setyanto, di wilayah Eropa saat ini hamper 60 persen akses menggunakan wireline, sedangkan 40 persennya wireless. Nantinya ketika orang di rumah, untuk mengakses internet, mereka menggunakan wireline,

Pemerintah, menurut Setyanto, mampu untuk membangun infrastruktur wireline. Atau pemerintah memberikan insentif kepada operator jika mereka memang menginginkan seperti itu.

"Yang jelas, kita merasa perlu untuk melakukan perubahan, terutama di sisi konektivitas, karena jaringan wireline yang ada saat ini mungkin baru di wilayah-wilayah bisnis saja seperti Kuningan, impian saya pemerintah segera membangun apa yan dinamakan 'jalan tol' itu," kata Setyanto.

Sebelumnya, dalam sambutannya di ajang Indonesian Telecom Summit 2009, Setyanto juga mengatakan teknologi jaringan broadband, yang memungkinkan transport data digital dengan kecepatan tinggi, seringkali diartikan sebagai internet berkecepatan tinggi oleh masyarakat umum di indonesia. Akibatnya, kendala yang seringkali dihadapi dalam jaringan mobile broadband, terutama di Jakarta, adalah kongesti jaringan atau kemacetan. Untuk itulah dibutuhkan semacam 'jalan tol virtual' untuk mengatasi kemacetan jaringan tersebut. (srn)

  • widiantokn » 0 Tanggapan
    Mungkin sebaiknya infrastruktur wired hanya dilakukan pada jaringan back bone saja, bukan diimplementasikan kepada end user. Ketimbang bongkar jalanan terus untuk menggali kabel, lebih baik memasang pemancar untuk mentransmisikan data. Jangan ikut-ikutan negara Eropa atau US, karena toh jarang sekali mereka melakukan pembokaran jalan cuma buat pasang kabel telekomunikasi dan infrastruktur mereka dibuat jauh lebih lama ketimbang di Indonesia. Lebih baik mengembangkan koneksi wireless yang cepat.
    Beri Tanggapan Laporkan

Beri komentar