JAKARTA - Toko aplikasi online milik Apple, App Store, dinilai sukses baik dari sisi bisnis maupun aplikasi. Salah satu kuncinya adalah pembayaran yang terintegrasi dalam satu pusat.
Padahal, di App store hasil keuntungan harus dibagi dua dengan Apple sendiri. Hal tersebut yang harusnya bisa dimanfaatkan di Android Market, karena aplikasi yang dijual akan dinikmati sendiri oleh pengembangnya.
"Mungkin karena Google merasa dirinya sudah kaya. Sehingga, tidak perlu pembagian hasil. Ini yang membuat aplikasi di Android Market bisa lebih murah," jelas pengembang Android Lukman Sebastian, di pertemuan komunitas pengguna teknologi Google (ID-GTUG) di FX Plaza, Jakarta, Sabtu (7/12/2009) lalu.
Namun sayangnya, hal tersebut tidak bisa diterapkan di Indonesia. Seperti diketahui, ponsel Android yang masuk ke tanah air masih menggunakan sistem Open Handset Distribution (OHD), yang artinya pengguna tidak bisa mengunduh ke Android Market, selama tidak ada lisensi yang diberikan Google.
Tapi Lukman melihat sisi yang berbeda, masih ada toko aplikasi yang bisa digunakan pengguna ponsel di Indonesia, selain Android Market. Yang justru ditingkatkan adalah kemudahaan dalam melakukan pembayaraan.
"Kalau pembayaraannya dipermudah, saya yakin aplikasi dan tokonya akan semakin maju," tambahnya.
Saat ini, model pembayaraan untuk pembeliaan seperti itu, sudah coba dilakukan Indosat, melalui I-Pay. Dan kemudahaan seperti itu, yang akan membuat Android semakin maju.
"Setahu saya, kalau membeli konten yang sifatnya bukan fisik, boleh memotong pulsa. Tetapi, bisa pakai cara yang lain, dengan bekerja sama dengan pihak ketiga," tandas founder Gadtorade, sebuah milis jual beli gadget. (srn)