JAKARTA - Petani di Indonesia dinilai belum mengetahui informasi mengenai perubahan iklim yang melanda bumi. Padahal informasi perubahan iklim, termasuk informasi-informasi curah hujan, sangat dibutuhkan petani terutama untuk memprediksi musim tanam.
Hal itu diungkapkan peneliti universitas Padjajaran Ronnie S Natawidjaja, Ph.d saat memaparkan hasil penelitian bertema "Perubahan Iklim, Ketahanan Pangan dan Distribusi pendapatan:Adaptasi petani padi berlahan sempit" di restoran Sate Senayan, Menteng, Jakarta, Rabu (9/12/2009).
Penelitian tersebut dilakukan bekerjasama dengan the Australian National University dan Australian Bureau of Agricultural and resources Economics (ABARE) dan dibiayai oleh Australian Indonesia Governance Research Partnership (AIGRP).
Penelitian dilakukan di enam kabupaten di wilayah Jawa barat dan Jawa Timur yakni, Karawang, Indramayu, Subang, Lamongan, Bojonegoro, dan Tuban. Penelitian dilakukan dengan metode survei yang membandingkan kondisi pertanian dengan menitikberatkan pada perilaku petani dari rentang waktu 1999 hingga 2009.
"Informasi Perubahan iklim hanya menyentuh tatanan nasional dan internasional, dan tak melibatkan petani sama sekali," kata Ronnie.
Ronnie menyatakan, dampak dari minimnya informasi akan sangat terasa bagi para petani kecil yang hanya memiliki lahan kurang dari satu hektar. "Berbeda dengan petani besar yang memiliki lahan di atas satu hektar, umumnya mereka telah mengerti sedikit dan bahkan telah ada yang melakukan adaptasi terhadap perubahan iklim, seperti mengubah varietas tanaman padi," kata Ronnie.
Melalui penelitian itu, Ronnie mengharapkan agar pemerintah segera mengambil langkah strategis untuk menyiapkan petani menghadapi perubahan iklim. "Langkah sosialisasi seperti lewat buletin reguler, tentang curah hujan dalam tiga bulan ke depan yang aktual akan sangat membantu petani," kata Ronnie.
Langkah, lain yang dapat ditempuh pemerintah Ronnie antara lain, dengan memberikan pelatihan kepada penyuluh-penyuluh pertanian untuk menyosialisasikan perubahan iklim pada petani kecil. selain itu, pemerintah dapat mendirikan sekolah lapangan di setiap desa untuk melatih petani dalam menggunakan prakiraan cuaca dan memahami implikasi perubahan iklim.
Jika langkah-langkah tersebut tidak dimulai dari sekarang, Ronnie memprediksi dalam sepuluh tahun ke depan kondisi pertanian Indonesia, dan bahkan kesejahteraan petani akan terpuruk.
Lewat informasi yang aktual petani kecil di Indonesia, mampu mengantisipasi perubahan iklim. Ronnie mencontohkan, petani bisa melakukan perubahan seperti mengganti varietas, menghitung musim tanam, atau bahkan beralih pada tanaman lain bila kondisi iklim tak memungkinkan melakukan penanaman padi.
Sementara itu, peneliti ekonomi bidang perubahan iklim ABARE Catherine Tulloh mengungkapkan, hal itu berbeda dengan petani di Australia yang memiliki kesempatan untuk mendapatkan informasi lengkap mengenai keadaan cuaca melalui internet. "Kondisi petani di Australia lebih siap dalam menghadapi perubahan iklim," kata Catherine. (srn)