Getting Time...

Industri Elektronik Bakal Memulih

Koran SI - Koran SI
Rabu, 10 Februari 2010 09:44 wib
detail berita

Kabut kelam yang menyelubungi industri elektronik konsumsi global pada 2009 dinilai segera sirna. Firma riset iSuppli Corp memperkirakan, pendapatan industri elektronik konsumsi global pada 2010 akan bertumbuh 1,6 persen, setelah turun 6,7 persen pada 2009 akibat hantaman krisis finansial global. iSuppli meyakini, industri elektronik konsumsi global pada 2010 akan mampu menuai pendapatan USD317,3 miliar, alias naik tipis dari USD312,3 miliar pada 2009. iSuppli menjelaskan, pendapatan industri elektronik konsumsi global pada tahun ini akan naik karena konsumen mulai membeli kembali produk-produk elektronik baru.

"Pertumbuhan pada 2010 akan berlanjut ke tahun-tahun berikutnya. Produk elektronik konsumsi yang paling laris pada tahun ini dan tahun-tahun mendatang adalah televisi LCD (liquid crystal display)," ujar Principal Analyst iSuppli Corp Jordan Selburn.

Dalam perkiraan iSuppli, penjualan televisi LCD global pada tahun ini akan menghasilkan pendapatan USD75,5 miliar, naik dari USD71,95 miliar pada 2009. Sementara itu, produk yang menghasilkan pendapatan tertinggi kedua pada 2010 adalah set-top-box (STB) seperti Blu-ray Player,DVD Player, atau pun alat-alat penerima siaran televisi satelit. iSuppli memprediksi, pendapatan STB global pada tahun ini akan mencapai USD18,2 miliar, naik dari USD16,3 miliar pada 2009.

"Konsumen berlomba membeli STB berkat kehadiran video definisi tinggi seperti Blu-ray," tandas Selburn. Namun demikian, iSuppli mengungkapkan tidak semua segmen dalam industri elektronik konsumsi global mampu meraih pertumbuhan pada 2010. Sebagai contoh, di pasar televisi flat-panel (layar datar), televisi LCD bersaing dengan televisi PDP (plasma display panel). Saat pendapatan televisi LCD diperkirakan menanjak, pendapatan televisi PDP ternyata diperkirakan menukik.iSuppli memperkirakan, pendapatan televisi PDP global pada 2010 akan turun menjadi USD9,2 miliar, dari USD12,2 miliar pada 2009.

"Televisi LCD hampir memangsa habis pangsa pasar global televisi PDP karena harga televisi LCD turun tajam. Di samping itu, para produsen televisi LCD juga lebih agresif meremajakan teknologi guna meningkatkan kualitas gambar dan memangkas konsumsi energi," papar Selburn.

Pada saat ini, para produsen televisi LCD memang agresif menyajikan peremajaan teknologi. Salah satunya dengan merilis LCD televisi (liquid crystal display) yang dilengkapi sistem backlight LED (light-emitting diode). Produsen televisi terbesar dunia Samsung Electronics Co Ltd mengungkapkan, penjualan global televisi LCD-LED meningkat lebih tinggi daripada target pada 2009. Untuk 2009, Samsung sesungguhnya hanya mencanangkan target penjualan global televisi LCD-LED sebanyak 2 juta unit.

Namun demikian, hingga akhir 2009 Samsung ternyata mampu menjual global televisi LCD-LED sebanyak 2,6 juta unit. Samsung menjelaskan, televisi LCD-LED menjadi semakin laris karena harganya menjadi lebih terjangkau dan mampu menampilkan gambar lebih cerah, tajam, dan kaya warna daripada televisi LCD tradisional yang menggunakan sistem backlight CCFL (cold cathode fluorescent lamp). Lebih dari itu, televisi LCDLED juga lebih hemat energi daripada televisi LCD-CCFL yang sekelas.

Dari sisi estetika, televisi LCDLED juga memiliki penampilan lebih cantik daripada televisi LCDCCFL karena televisi LCD-LED memiliki dimensi lebih tipis, sehingga tidak boros ruang ketika diletakkan di rumah atau pun ruang perkantoran. Karena Samsung mampu menjual lebih banyak televisi LCD-LED daripada target pada 2009, Samsung pun mendongkrak target untuk 2010. Samsung meyakini, pada tahun ini penjualan global televisi LCD-LED yang diproduksinya sanggup menembus volume 10 juta unit.

Dengan merilis sebanyak mungkin televisi LCD-LED, Samsung berharap mampu merangkul lebih banyak pelanggan karena konsumen memiliki lebih banyak pilihan produk yang paling sesuai dengan kebutuhan. Namun demikian, Samsung bukan pemain tunggal di pasar LCDLED. Pesaing terberat Samsung adalah LG Electronics Inc. Samsung dan LG memang berasal dari satu negara, yaitu Korea Selatan. Namun dalam industri elektronik konsumsi, mereka bersaing sangat sengit melampaui persaingan dengan para pesaing dari negara lain karena Samsung dan LG memang memiliki anggaran dan divisi penelitian dan pengembangan (R&D) yang sama-sama kuat. Sebagai contoh, pada Januari 2009 Samsung memperkenalkan televisi LCD-LED paling tipis di dunia.

Memiliki layar berukuran 40 inci, televisi Samsung itu hanya berketebalan 6,5 mm, sehingga televisi itu bahkan menjadi lebih tipis daripada sebagian besar ponsel yang beredar di pasar.Namun, keunggulan Samsung tersebut ternyata tidak berumur panjang. Pasalnya pada Mei 2009, LG memperkenalkan televisi LCD 42 inci dan 47 inci yang berketebalan hanya 5,9 mm. Gugur sudah rekor yang dipegang Samsung.Akan tetapi, gempuran LG ternyata tidak berhenti di sana. Pada akhir Desember 2009,LG memperkenalkan panel displai LCD-LED 42 inci yang berketebalan hanya 2,6 mm.

Jika panel LCD-LED itu dijadikan televisi,akan tercipta televisi LCDLED yang sangat tipis. Sejak 2007, displai paling tipis di dunia adalah displai berteknologi OLED (organic light-emitting diode). Contohnya televisi OLED 11 inci produksi Sony Corp yang memiliki ketebalan hanya 3,0 mm. Dengan kedatangan panel LCD-LED LG yang hanya berketebalan 2,6 mm,rekor yang dipegang televisi OLED niscaya tumbang. LG menjelaskan, panel LCDLED paling tipis di dunia itu berbobot kurang dari 4 kg. Alhasil, jika panel itu dijadikan televisi, televisi tersebut menjadi lebih mudah digantung di dinding, untuk menghemat ruang di tempat tinggal ataupun perkantoran.

Dalam industri televisi flatpanel, televisi OLED belum mampu meraih volume penjualan setinggi televisi LCD karena harga televisi OLED masih terlalu mahal. iSuppli memprediksi, penjualan televisi OLED global akan meningkat hingga 240 kali lipat pada 2015. iSuppli mencatat, pada 2008 penjualan panel OLED global menghasilkan pendapatan USD10 juta. Karena penjualan televisi OLED terus meningkat, iSuppli memprediksi pada 2015 penjualan panel OLED global akan menghasilkan pendapatan tidak kurang dari USD1,8 miliar.

"Proses manufaktur televisi OLED masih menghadapi sejumlah tantanganbesar.Kapasitasproduksi televisi OLED pun masih sangat terbatas. Akibatnya, hingga 2015 harga televisi OLED akan tetap sangat mahal," tandas Principal Analyst Small-Medium Display Research iSuppli Corp Vinita Jakhanwal. (srn)

Beri komentar