BARCELONA - Index Telecoms TweetLevel dari perusahaan konsultan strategic marketing Edelman mengungkapkan operator telekomunikasi terlambat dalam menggunakan Twitter untuk melibatkan diri dengan konsumen.
Operator telekomunikasi mendominasi daftar pengguna Twitter di seluruh dunia yang paling sering berinteraksi dengan publik dan mencapai hampir sepertiga dari sepuluh besar index TweetLevel Edelman. Indeks diukur berdasarkan 1.000 pengguna Twitter yang paling aktif di dunia. Dengan menggunakan algoritma khusus, Edelman mengukur para pengguna Twitter berdasarkan beragam kriteria, termasuk daya tarik yang dihasilkan oleh tulisan-tulisan mereka terhadap khalayaknya dan keterlibatan mereka dalam komunitas Twitter.
Dalam hal 'keterlibatan' di Twitter (tingkat keaktifan pengguna Twitter berpartisipasi di komunitas Twitter mereka), T-Mobile Amerika Serikat meraih urutan pertama, disusul Vodafone di urutan kedua, Vodafone UK (ketiga), Optus (kelima), Vodafone New Zealand (kesembilan) dan Telstra (kesepuluh). Operator telekomunikasi lainnya di Asia Pasifik yang termasuk dalam Top 100 menurut tingkat ‘keterlibatan’ mereka adalah Korea Telecom, Tata DoCoMo dan LG Telecom.
"Walaupun operator telekomunikasi di Asia Pasifik telah mulai menggunakan Twitter sebagai alat komunikasi, mereka perlu meningkatkan keterlibatan mereka agar dapat benar-benar meraih manfaat dari saluran komunikasi ini," kata Managing Director Edelman Southeast Asia Bob Grove, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (17/2/2010).
Digital Brand Index dari Edelman Asia Pacific belum lama ini menunjukkan bahwa Twitter mendominasi sebagai saluran tempat publik berbagi berita tentang merek-merek teknologi di seluruh Asia, dan para operator di wilayah ini perlu menggunakan medium ini untuk meningkatkan keterlibatan dan pengaruh mereka terhadap para konsumennya.
Secara global, para operator telekomunikasi umumnya tidak semata-mata menggunakan Twitter untuk meyebarkan pesan-pesan atau promosi, seperti yang dapat dilihat dalam peringkat influence atau pengaruh dalam TweetLevel, dimana para operator justru kurang terwakili kehadirannya, melainkan untuk terlibat dan berinteraksi dengan komunitas mereka, yang pada banyak kasus terjadi melalui komunikasi dua arah.
"Twitter telah menunjukkan pertumbuhan yang pesat di Asia Pasifik dan memberikan peluang yang sempurna bagi para operator untuk melibatkan diri dengan konsumennya melalui dialog dua arah untuk membangun dan memperkuat kesetiaan pelanggan dan Average Revenue Per User (APRU)," Tandas Bob.
Sementara itu Jonny Bentwood, Head of Strategic Analysis di Edelman, mengatakan dirinya menggunakan lebih dari 30 metrik untuk membuat algoritma indeks ini.
“Berbeda dengan algoritma pada umumnya yang hanya mempertimbangkan jumlah pengikut (followers) yang dimiliki seseorang, , TweetLevel memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai siapa yang dianggap paling layak didengar di di forum yang semakin berpengaruh ini,” kata orang yang menciptakan algoritma untuk TweetLevel tersebut.
Dijelaskannya, ada empat metrik pengukuran, yakni Influence (pengaruh), Popularity (popularitas), Engagement (keterlibatan), seberapa aktif si pengguna Twitter berpartisipasi dalam komunitas Twitter, dan Trust (kepercayaan).
Setiap skor dihitung dalam skala 100, semakin tinggi skor semakin penting orang tersebut di dunia Twitter. Rangking dan skor diambil pada tanggal 4 Februari 2010 dan bisa berubah seiring berjalannya waktu. Sepuluh pengguna Twitter dengan tingkat pengaruh tertinggi diantaranya @chrisbrogan, @jeffpulver, @techcrunch, @om; @jeanlucr, @jowyang, @Scobleizer, @ndorokakung, @abduzeedo, dan @9swords.
@ndorokakung merupakan pengguna Twitter Indonesia tertinggi dengan skor TweetLevel 73. (srn)