MONTREAL - Menonton televisi sejak usia dini ternyata memiliki pengaruh buruk bagi kesehatan, prestasi akademik dan perkembangan sosial anak-anak.
Peneliti dari Canadian Study, seperti dilansir melalui Straits Times, Selasa (4/5/2010), menonton televisi secara berlebihan di usia 29 bulan mampu membuat sang anak tidak bisa bersosialisasi di sekolah, sulit mencerna pelajaran matematika, dan kurang memiliki waktu untuk aktivitas fisik, dalam perkembangannya ke depan.
Selain itu, menonton televisi terlalu sering juga dapat meningkatkan aksi kekerasan di sekolah, tingginya tingkat konsumsi makanan dan minuman ringan, serta kemungkinan kegemukan. Semua masalah itu kemungkinan besar akan terjadi di usia anak mencapai 10 tahun.
Namun begitu, para peneliti juga membenarkan jika menonton televisi mampu meningkatkan perkembangan berpikir dan motorik anak. Namun hal itu akan terjadi jika perilaku menonton televisi dilakukan secara tidak berlebihan dan anak telah mencapai usia remaja.
"Broadcasting memiliki orientasi edukasi jika benar-benar menargetkan anak-anak di usia pra-sekolah, yang mungkin memiliki beberapa manfaat kognitif," ujar para peneliti tersebut.
"Namun demikian, menonton televisi pada masa prasekolah tetap menjadi aktivitas kognitif pasif ketika pengalaman kunci untuk mengembangkan perhatian dan perilaku pengaturan diri diharapkan akan terjadi." tambah mereka.
Anak-anak dalam 'periode kritis,' misalnya, belajar bagaimana untuk memproses informasi, berinteraksi dengan lingkungan mereka dan akhirnya menggunakan logika untuk memahami matematika dan sains. (srn)