Pembakaran Sekeluarga Terjadi Akibat Krisis Iman

Selasa, 18 Mei 2010 - 09:54 wib | Baringin Lumban Gaol - Koran SI

Pembakaran Sekeluarga Terjadi Akibat Krisis Iman ddkpmn.blog.friendster.com (ilustrasi) TARUTUNG - Tokoh masyarakat Tapanuli Utara (Taput) Asman Sihombing mengatakan, tragedi pembakaran keluarga yang dituduh mempercayai begu ganjang, menyiratkan telah terjadi krisis keimanan di tengah warga Desa Buntu Raja.  
 
Selain itu, tragedy tersebut juga disebabkan faktor spiritual budaya dan kelemahan pemahaman akan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya. Pada umumnya, masyarakat Batak memahami bahwa makna dari sebuah keberadaan spiritual adalah untuk peneduhan diri. Sehingga tidak seperti yang dipahami saat ini, bahwa begu ganjang ada untuk membunuh manusia dengan berbagai ilustrasi yang digambarkan para dukun.
 
“Kami berharap para dukunnya juga harus dipidanakan karena sudah masuk pada kategori menghasut warga. Harus dipahami pula, dalam spiritual Batak tidak pernah menuduh seseorang memiliki begu ganjang,” tegasnya.
 
Dari sisi keimanan, lanjut dia, saat ini di Tanah Batak telah terjadi penurunan sangat drastis tentang kenyakinan akan keberadaan Tuhan.
 
Ini lahir dari lemahnya lembaga-lembaga agama yang dianut oleh warga untuk membentuk sebuah paradigma baru tentang kehidupan yang lebih baik.
 
“Kita bisa melihat kasus seperti ini terjadi di daerah Batak yang umumnya masih sulit dijangkau teknologi. Sehingga selain dari lembaga agama, pemerintah daerah juga harus mengambil sikap yang tegas untuk menghentikan aksi-aksi sadis yang lahir dari ketidaktahuan warga,” jelasnya.
 
Direktur Pusat Latihan Opera Batak (Plot) Pematangsiantar Thompson HS menambahkan, pada dasarnya begu ganjang yang akrab disebut sebagai Sigumoang tersebut tidak ada. Namun, melalui sebuah propaganda yang bersumber dari dendam pribadi, maka menjadi ada. “Lembaga-lembaga sosial, seperti lembaga agama harus dapat memfasilitasi agar persoalan ini dapat dituntaskan,” tukasnya.
 
Sejauh ini dalam pandangannya, isu begu ganjang lahir dari sentimen pribadi. Dalam beberapa buku Laklak (buku tua yang menggambarkan keadaan orang Batak zaman dahulu) yang pernah dipelajarinya sangat jarang ditemukan istilah begu ganjang. “Begu ganjang itu sendiri adalah istilah baru yang dimunculkan untuk mengaplikasikan dendam sehingga masyarakat harus hati-hati dalam memaknainya,” urainya.
 
Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Poldasu) Inspektur Jenderal (Irjen) Oegroseno mengatakan, kasus yang membuat bulu kuduk kita merinding ini ditangani sepenuhnya oleh Polres Taput. Dia pun memandang belum perlu menggeser personel ke Dusun Buntu Raja, walaupun sempat terjadi kekurangan personel lantaran sebagian besar ditugasi untuk mengamankan pelaksanaan Pilkada Sibolga dan Toba Samosir.
 
“Tidak ada penambahan pasukan karena masih bisa ditangani Polres Taput dan jajarannya,” ujarnya saat dihubungi melalui telepon selulernya kemarin. Pelaksana Harian (Lakhar) Kepala Bidang Humas Poldasu Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) MP Nainggolan menambahkan, pemeriksaan yang dilakukan polisi terhadap ratusan warga yang diduga melakukan penyerangan berdasarkan data dan fakta yang logika.
 
Sedangkan, motif adanya begu ganjang yang digelontorkan warga tidak bisa diterima karena menyangkut dunia gaib. “Tentang begu ganjang itu tidak bisa diterima dalam proses penyelidikan karena tidak bisa dihadirkan secara fakta dan logika,” ujarnya.
 
Seperti diberitakan sebelumnya, Gibson Simaremare (60); istrinya Riama Rajaguguk (65) dan anaknya Lauren Simaremare (35), tewas dibakar massa, setelah diseret paksa dari rumah masing-masing. Sebelum dibakar, mereka lebih dahulu dihujani bacokan dan tikaman senjata tajam.
(teb)

BERIKAN KOMENTAR ANDA

Facebook Comment List

BACA JUGA »