TOKYO - Greenpeece kembali mengeluarkan daftar perangkat elektronik yang peduli dengan standar lingkungan. Nintendo, Toshiba, Nokia dan Sony Ericsson menjadi vendor yang sedang disorot.
Setiap kuartal, Greenpeace mengeluarkan laporan bertajuk 'Guide to Greener Electronics' untuk menunjukkan 18 perusahaan besar di dunia elektronik untuk meminta komitmen mereka terkait kepedulian lingkungan.
Menurut data Greenpeace, Nintendo dan Toshiba merupakan vendor yang memiliki kepedulian lingkungan yang rendah. Namun untuk Nokia dan Sony Ericsson, Greenpeace justru memuji karena kedua perusahaan yang berkomitmen untuk daur ulang dan menghilangkan zat berbahaya.
Target Greenpeace sendiri adalah penghapusan dua bahan kimia beracun, khususnya polivinil klorida (PVC) dan retardants brominated flame (BRF), karena zat-zat tersebut mampu bertahan cukup lama di lingkungan dan dapat terakumulasi dalam tubuh manusia.
"Racun Dioxin tingkat tinggi akan dilepaskan ketika para kolektor limbah elektronik di negara berkembang membakar PVC untuk memulihkan tembaga di bagian dalam perangkat, atau membakar panel sirkuit dalam asam untuk memisahkan komponen emas," ujar peneliti Greenpeace Iza Kruszewska, seperti dikutip melalui AFP, Kamis (27/5/2010).
Nintendo, pembuat konsol Wii, kata Kruszewska, merupakan vendor yang belum pernah sama sekali berbicara dengan Greenpeace terkait ramah lingkungan di elektronik besutannya. Pihak Nintendo sendiri menolak memberikan komentar secara langsung namun mereka mengatakan bahwa setiap organisasi lingkungan memiliki persyaratan dan keinginan yang berbeda, yang cenderung memiliki fokus yang lebih sempit daripada mempertimbangkan aktivitas perusahaan yang lebih luas.
"Kami berkomitmen untuk melaporkan setiap kinerja CSR (tanggung jawab sosial perusahaan) dengan cara terbuka untuk menghindari salah paham di masyarakat," ujar pihak perusahaan yang berbasis di Kyoto ini.
Toshiba, yang membuat barang-barang elektronik maupun pembangkit listrik tenaga nuklir, turun dari posisi ketiga pada bulan Desember menjadi peringkat 14 dalam daftar terbaru.
Toshiba menerima hukuman dari kami karena melanggar janjinya untuk membebaskan semua produk elektronik konsumen dari PVC dan BFR pada 1 April ini," kata Kruszewska.
Menanggapi hal ini, Toshiba mengaku akan terus berusaha maksimal untuk mempromosikan penggantian PVC atau BFR untuk produk digital dengan mengevaluasi secara komprehensif, baik kinerja, biaya, produktivitas dan faktor lainnya.
Untuk urusan ramah lingkungan, Nokia mengambil posisi teratas dan Sony Ericsson menduduki posisi kedua. Philips di tempat ketiga, diikuti oleh Motorola di posisi keempat, sedangkan Apple menduduki posisi kelima.
Greenpeace mengenakan poin denda pada Samsung, Dell, Lenovo, LG Electronics dan Toshiba karena mereka dianggap telah ingkar janji.
"Samsung telah mendapatkan penalti kedua karena mereka tidak hanya melanggar komitmen tapi juga gagal untuk memberikan tenggat waktu dalam komitmen menghilangkan PVC dan BFR di TV," kata Kruszewska.
Kruszewska menegaskan jika bahan-bahan beracun tersebut penting untuk dihilangkan karena arus limbah elektronik dari negara-negara kaya ke negara-negara miskin sulit untuk dihentikan
"Kami melihat semakin banyak produk yang meluncur di pasaran bebas dari PVC dan BFR. Perusahaan yang sudah sadar diri seperti HP, Acer dan juga dua merek India, Wipro dan HCL," katanya. Sayangnya, Wipro dan HCL tidak tercakup dalam peringkat.
"Secara umum, perusahaan-perusahaan Jepang memiliki performa terbaik untuk urusan energi namun terlemah untuk urusan limbah elektronik dan kimia," katanya.
"Tidak ada produk perusahaan Jepang yang benar-benar bebas dari PVC dan brominated flame retardants," tegas Kruszewska. (srn)