ILLINOIS - Sebuah survei berhasil membuktikan, meski uang bisa membeli keamanan dalam hidup namun tidak demikian dengan kebahagiaan.
Dilansir melalui Telegraph, Jumat (2/7/2010), survei yang melibatkan lebih dari 100.000 responden ini menunjukkan jika memang ada keterlibatan antara perasaan aman dengan tingkat pendapatan hidup, namun justru tidak ada hubungan antara banyaknya uang dengan rasa bahagia.
Analisa baru yang diklaim mewakili 96 persen jumlah penduduk di seluruh dunia ini menyatakan jika tingkat kepuasan hidup seseorang akan semakin tinggi seiring dengan meningkatnya pendapatan individu dan negara.
Sayangnya, perasaan positif, seperti bahagia dan kenyamanan, dipicu oleh faktor lain selain materi berlimpah. Beberapa faktor pendukung misalnya adalah merasa dihormati, bersikap mandiri, memiliki banyak teman, dan berhasil menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.
"Apakah uang dapat membuatmu bahagia? Ini merupakan pertanyaan umum. Studi ini memberitahukan jika kebahagiaan muncul bergantung dengan bagaimana anda mendefinisikan kebahagiaan," ujar Psikolog dari University of Illinois Profesor Ed Diener.
Menurut Diener, jika kebahagiaan diukur dengan sebuah kepuasan, lalu tinggal bagaimana anda mengevaluasi seluruh hidup yang dijalani, dengan demikian anda akan selalu mengkorelasi penghasilan anda dengan kebahagiaan.
"Di sisi lain, sangat mengejutkan jika melihat hasil yang ada. Ternyata perasaan positif yang muncul memiliki korelasi yang sangat kecil dengan pendapat. Intinya adalah bagaimana anda menikmati hidup ini," ujar Diener.
Survei dan analisa yang telah dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology ini melibatkan sekira 136.000 orang yang berasal dari segala lapisan dan segmen, dan mewakili orang-orang dari 132 negara yang diwawancara melalui telepon maupun tatap muka. Untuk mendapatkan hasil yang kompeten, survei ini diadakan selama 1 tahun, sejak 2005 hingga 2006.
Para peneliti bisa melihat daftar panjang responden, termasuk pendapatan dan standar gaya hidup, apakah kebutuhan pokok mereka untuk makanan dan tempat berteduh berhasil dicapai, apa jenis kemudahan yang mereka miliki dan apakah mereka merasa kebutuhan-kebutuhan psikologis mereka terpuaskan.
Diener mengklaim ini merupakan studi mengenai kebahagiaan yang pertama dilakukan untuk membedakan antara kepuasan hidup, keyakinan filosofis bahwa hidup berjalan dengan baik, dan pengalaman perasaan positif atau negatif sehari-hari.
"Selama ini semua orang hanya melihat kepuasan hidup dan pendapatan," katanya.
"Dan meskipun benar jika kekayaan akan membuat hidup terasa lebih puas, mungkin hal ini tidak akan memiliki dampak besar dalam menikmati hidup." tandas Diener. (srn)