TAIPEI - Intel menutup kantor untuk program Wimax (Wimax Program Office/WPO) yang berlokasi di Taiwan. Seluruh pekerja di kantor tersebut dipindahkan ke beberapa divisi lain.
Kantor tersebut awalnya dibangun untuk mempromosikan penggunaan teknologi broadband nirkabel yang selama ini bersaing dengan teknologi nirkabel seluler. Dengan WPO, Intel berharap dapat menyebarkan keuntungan yang didapat dengan teknologi Wimax.
Intel juga berharap Wimax akan menjadi teknologi murah yang dapat digunakan para pengguna internet di mana saja dan kapan saja. Teknologi Wimax dipercaya memiliki kecepatan yang lebih ketimbang wifi, serta cakupan wilayah yang cukup luas.
Sayangnya, WPO pun akhirnya ditutup oleh Intel. Langkah ini menimbulkan banyak spekulasi, salah satu di antaranya adalah penutupan ini merupakan bentuk kegagalan Wimax. Bahkan Intel dianggap menyerah ke LTE, teknologi broadband nirkabel yang selama ini selalu bersaing dengan Wimax.
Namun, pihak Intel tidak membenarkan spekulasi tersebut. Intel memastikan masih berkomitmen untuk menggarap pasar Wimax dan membesarkannya.
"Penutupan ini tidak akan mengubah fokus kami di Wimax. Bahkan kami akan meleburkan tim yang ada dengan beberapa divisi yang terkait untuk lebih meningkatkan komersialisasi terhadap Wimax. Kami masih berkomitmen terhadap Wimax," ujar juru bicara Intel di Singapura, Nick Jacobs, seperti dikutip melalui PC World, Senin (5/7/2010).
Ditambahkan Jacobs, saat ini telah ada sekira 500 jaringan Wimax di 147 negara di dunia untuk melayani kebutuhan broadband sekira 10 juta orang.
Seluruh staf di WPO nantinya akan dipindahkan ke beberapa divisi Intel seperti Mobile Wireless Group, PC Client Group, atau Sales Marketing unit. (srn)