KASUS Mark Vincent Hurd bukan skandal memalukan pertama yang menerima Hewlett-Packard (HP) Co. Hurd menjadi Chairman HP pada 2006 untuk menggantikan Patricia Cecile Dunn, yang harus mengundurkan diri dari posisi Chairwoman HP akibat dugaan skandal pencurian informasi.
Skandal tersebut mencuat pada 2006 setelah HP mengakui secara rahasia memeriksa catatan telepon pribadi wartawan, anggota dewan direktur, dan karyawan HP. HP melakukan tindakan melanggar hukum itu untuk mengetahui sumber kebocoran informasi dari HP kepada wartawan. Akibat skandal itu, Dunn dipecat dan empat detektif swasta yang membantu Dunn dikenai dakwaan kriminal.
Salah seorang detektif swasta yang membantu Dunn, yaitu Bryan Wagner, mengaku bersalah atas kejahatan pencurian identitas dan konspirasi.
"HP mencoba dan mengganggu kebebasan pers. HP terlibat aktivitas ilegal untuk mengganggu pengumpulan berita yang legal. Tujuan HP adalah mencuri rahasia dagang surat kabar dan wartawan yang menjadi korban," ujar Terry Gross, pengacara salah seorang wartawan yang menjadi korban HP.
Untuk menyelesaikan kasus itu, HP harus membayar ganti rugi kepada The New York Times dan tiga wartawan BusinessWeek. HP tidak menyebut nilai ganti rugi yang dibayarkan untuk kasus ini. Namun, HP menyatakan penyelesaian kasus ini memuaskan semua pihak.
Pada Desember 2004, HP juga sepakat membayar gugatan perdata Kejaksaan Tinggi California, Amerika Serikat, senilai USD14,5 juta, untuk menyelesaikan kasus pelanggaran privasi dan HaKI (Hak atas Kekayaan Intelektual). (srn)