UNTUK sebagian besar konsumen, media penyimpan SSD (solid state drive) memang masih terlalu mahal ketika dibandingkan dengan HDD (hard disk drive). Namun demikian, konsumen yang lain rupanya tetap membeli SDD.
Terbukti, para produsen komputer masih agresif merilis notebook bermedia penyimpan SSD. Tercatat, Dell Inc menjadi salah satu produsen komputer yang menawarkan notebook bermedia penyimpan SSD berkapasitas 256 GB pada Januari 2009. Pada Mei 2009, Toshiba Corp mengejar dengan merilis notebook yang dilengkapi SSD berkapasitas 512 GB.
Tidak ingin tertinggal, Apple Inc turut menawarkan notebook yang dilengkapi SSD berkapasitas besar. Pada April 2010, Apple pun merilis notebook berkinerja tinggi MacBook Pro yang dilengkapi SDD berkapasitas 512 GB. Firma riset iSuppli Corp memperkirakan, hingga lima tahun mendatang harga SSD masih jauh lebih mahal dibandingkan HDD yang berkapasitas sama besar. Namun begitu, iSuppli meyakini, sebagian konsumen di dunia akan tetap membeli SSD. iSuppli bahkan meyakini, pada 2012 sebanyak 35 persen dari seluruh notebook terbaru di dunia akan dibangun menggunakan media penyimpan SSD, menggantikan HDD.
iSuppli menjelaskan, pada 2008 penjualan SSD global menghasilkan pendapatan sekitar USD127 juta. Pada 2009, angka itu melambung menjadi USD883 juta. Pada sisi volume, penjualan SSD global pada 2008 baru mencapai 1,4 juta unit. Pada 2009, angka itu mampu menembus 5,8 juta unit. iSuppli menambahkan, pendapatan SSD global akan meningkat rata-rata 142,8 persen per tahun mulai 2008 hingga 2013 sehingga pada 2013 pendapatan SSD global akan mencapai USD10,8 miliar.
Pada saat yang sama, volume penjualan akan bertumbuh rata-rata 115,6 persen per tahun sehingga penjualan SSD global pada 2013 akan mencapai 65,2 juta unit. Sedemikian kuat daya pikat SSD, sehingga konsumen pun tetap membeli SSD pada masa krisis finansial global pada 2009. Firma riset International Data Corp (IDC) menemukan, pada 2009 volume penjualan SSD global mampu menembus angka 11 juta unit. Artinya, volume penjualan SSD pada 2009 meningkat sekitar 14 persen dibandingkan pada 2008.
Karena penjualan SSD terus meningkat, bahkan pada masa krisis seperti 2009, IDC meyakini, penjualan SSD akan terus berlanjut hingga 2013.
"Dari 2008 hingga 2013,volume penjualan SSD global meningkat rata-rata 54 persen per tahun. Peningkatan volume penjualan tersebut disertai pula dengan pertumbuhan pendapatan," tutur Manager HDD & SSD Components Research IDC Jeff Janukowicz.
Firma riset Forward Insights menilai, harga SSD sepintas memang tampak lebih mahal daripada HDD. Namun Forward Insights menegaskan, SSD sesungguhnya lebih murah daripada HDD karena SSD memiliki umur jauh lebih panjang daripada HDD.
"Keunggulan SSD atas HDD tidak hanya berupa peningkatan kinerja dan penghematan konsumsi energi. Tetapi juga biaya kepemilikan total karena komputer yang menggunakan SSD menjadi lebih awet daripada komputer yang menggunakan HDD," jelas President Forward Insights Gregory Wong.
Sejak 2009, popularitas SSD melonjak pesat karena para produsen SSD memang agresif melancarkan kampanye pemasaran. Salah satu bukti, produsen SSD terbesar di dunia Samsung Electronics Co Ltd rela kompetisi pergelaran World Cyber Games 2009, dengan menanam SSD pada komputer yang digunakan dalam perlombaan game kelas dunia itu.
SSD Samsung itu ditanam dalam komputer khusus game bernama Area-51 yang diproduksi Alienware Corp, yang merupakan produsen spesialis komputer berkinerja tinggi. Berkapasitas 128 GB, SSD Samsung tersebut mampu meningkatkan signifikan kecepatan komputer Area-51 ketika digunakan untuk memainkan game-game yang boros sumber daya komputasi. (srn)