MOBILE advertising sudah bergema sejak beberapa tahun lalu. Namun,gemanya belum beresonansi sempurna sampai sekarang ketika Apple ikut ”bermain” dan menunjukkan kepada publik bagaimana cara ”beriklan di ponsel yang benar”.
”Mobile advertising yang ada saat ini amat payah,” ujar CEO Apple Steve Jobs saat menjelaskan fitur baru iOS 4.1 untuk iPhone dan iPod touch,Rabu silam.
”Nah,kami mencoba untuk menawarkan alternatif beriklan di ponsel yang baru,” tambahnya. Tapi, apa sebenarnya yang membuat Apple tiba-tiba terjun di bidang ini? Dalam presentasi itu pula,Jobs mengungkap modal kuat yang dimiliki oleh Apple.Pertama, Apple App Store memiliki 250.000 aplikasi baik gratis maupun berbayar.
Sejauh ini,sudah ada 6,5 miliar aplikasi yang telah diunduh atau 200 aplikasi per detik.“Dan sekarang, kami ingin membantu developer mendapat uang,” ujar Jobs. Menurut Jobs, para pengguna iPhone sangat bergantung pada aplikasi.
”Jika ingin tahu sesuatu, mereka tidak melakukan search seperti di komputer desktop. User menghabiskan sebagian waktu mereka di aplikasi,”katanya.
Jobs mencontohkan jika seorang user ingin makan di restoran tertentu, maka ia akan menggunakan aplikasi sepeti Yelp! ataupun Foyage (di Indonesia). ”Mereka menggunakan aplikasi untuk mendapatkan data dari internet,” ujar Jobs.
Pengguna iPhone, lanjut Jobs, rata-rata menghabiskan 30 menit waktunya menggunakan aplikasi di ponsel. “Jika kami ingin memasang iklan, misalnya setiap tiga menit, berarti ada 10 iklan per ponsel per hari. Saat ini penjualan iPhone mendekati 100 juta.
Artinya, akan ada kesempatan 1 miliar iklan per hari di iPhone maupun iPod touch. Ini kesempatan besar,”katanya Tak hanya itu, Jobs mengaku ingin mengubah kualitas iklan yang ada saat ini, yakni menggabungkan sisi interaktif iklan di halaman web dengan sisi emosional iklan yang ada di televisi.
”Kebanyakan bujet untuk iklan masih lebih banyak mengalir ke televisi karena pengiklan bisa men-deliver pesan yang emosional. Nah, kami ingin berada di antara keduanya. Iklan yang emosional, tapi juga interaktif,”katanya. Ada beberapa poin yang dilakukan Jobs untuk ini.Pertama, iklan akan ada di dalam aplikasi.
“Kami telah menemukan cara bagaimana konten iklan interaktif maupun video bisa diinjeksikan dalam sebuah aplikasi,”ujarnya. Misal, ketika user mengklik banner Nissan Leaf yang ada pada aplikasi AP Mobile, maka ia tidak akan masuk ke browser internet. Tapi, iklan Nissan Leaf muncul sebagai aplikasi yang berbeda. Iklan ini bisa diawali dengan video, lantas masuk ke main menu.Di sinilah user dapat mengeksplorasi sebuah produk, seolah-olah produk itu adalah sebuah aplikasi tunggal. Menariknya, iAd ini akan menggunakan semua fungsi yang dimiliki iPhone.Misalnya menyentuh (tap), menggeser (swipe), memutar (spin), bahkan menggoyang (shake). Di sinilah developer bisa berkreasi menciptakan iklan semenarik mungkin.
Dan, jika telah selesai, user tinggal menyentuh tombol close, maka ia akan kembali ke aplikasi awal (AP mobile).Cara ini,menurut Jobs, membuat user lebih tertarik untuk mengklik iklan.
”Dan, ada ratusan ribu developer yang bisa membuat iklan sesuai dengan keinginan konsumen,” katanya. Jobs tidak main-main, ia mengklaim bahwa iAd akan mengonsumsi 48 persen spending pada Desember mendatang. David Sarno dari LA Times mengatakan, iklan Nissan dengan versi iAd memiliki interaksi 10 kali lebih lama dibandingkan iklan online lainnya. Pengguna tertarik untuk mengklik 5 kali lebih banyak daripada iklan onlinebiasa.
Tapi, apa benar iAd, yang juga akan dikemas untuk iPad, akan menjadi alat yang menguntungkan bagi semua pengiklan? Banyak yang berpendapat bahwa iAd dinilai efektif dalam menjaring pengiklan.Namun, iklan-iklan itu tak hanya butuh biaya besar untuk menciptakannya,juga butuh biaya lagi untuk bisa secara efektif menggapai para pengguna iPhone. Jadi, iAd yang seharusnya jadi kesempatan besar bagi small medium bussines (SMB) yang selama ini mempromosikan usahanya dengan iklan murah (Google Admob) akan tetap kesulitan untuk beriklan di iAd.
Masalah kedua, seberapa efektifkah iAd? Komplain pertama datang dari David Smith, founder Cross Forward Consulting. CFC adalah perusahaan audio book cukup sukses. Produknya sudah diunduh 1,6 juta kali dan tak jarang berada di aplikasi buku Top 10 Apple App Store. Sepekan memasang iklan di iAd dengan sistem cost per click (CPC) sekitar USD0.25, Smith mengaku menghabiskan biaya USD100-USD260 per hari. Tapi ternyata, hanya 6-19 orang yang mengunduh aplikasinya per hari. Jika harga audiobooks-nya tak sampai USD5, tentu ia rugi. Menurut Smith,iklan di Google AdMob lebih murah dengan hasil yang sama.
Memang, Apple tidak menjamin iAd akan sukses bagi setiap pengiklan.Yang mereka berikan adalah keleluasaan dalam beriklan. Dan, nantinya, iAd ini akan masuk ke dalam segala bentuk multimedia,mulai video, televisi, game, bahkan e-book alias buku elektronik.
(tyo)