JAKARTA - Merger Esia-Flexi yang saat ini ditentang Serikat Karyawan (Sekar) Telkom dinilai justru akan menguntungkan pelanggan karena coverage yang makin luas serta ditunjang dengan kanalisasi frekuensi yang makin lebar.
Hal itu diungkapkan, Sekjen Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) MasWigrantoro Roes Setiadi. Menurutnya pelanggan tidak akan dirugikan oleh merger karena perubahan manajemen tidak mesti diikuti oleh layanan yang makin buruk.
"Sejumlah operator swasta juga tetap memberikan layanan yang bagus. Sementara Telkom bisa fokus pada portofolio yang lain," ujar MasWig dalam keterangannya, Senin (13/12/2010).
Sekar terus mendesak pemerintah agar proses merger Flexi dan Esia ini tak terealisasi. Salah satu alasannya, Sekar melihat ada kekhawatiran bahwa setelah merger Flexi-Esia ke depannya akan dilanjutkan dengan penjualan ke perusahaan asing.
Kekhawatiran Sekar bahwa akan ada aset negara yang dijual, dinilai MasWig tak beralasan. Pasalnya ia menilai secara pembukuan di Telkom tidak ada aset yang dijual, malah nilai dan potensi pasarnya bisa makin besar.
"Sebaiknya Sekar adakan dialog dgn manajemen Telkom dan undang manajemen BTEL," katanya.
Di lain pihak, Wisnu Adhiwuryanto, Ketua Umum Sekar menilai negara terancam dirugikan sekitar Rp9 triliun bila merger Esia-Flexi jadi dilaksanakan.
"Aset yang terjual apabila Flexi dan Esia merger bisa mencapai Rp9 triliun, apalagi saya dengar ada rencana investor dari Korsel dan China yang akan memasuki bisnis CDMA di Indonesia melalui hasil merger tersebut," kata Wisnu.
Sekar Telkom sendiri berencana menggelar demo besar-besaran pada 16 Desember 2010, tepat sebelum RUPS Telkom digelar. Terkait hal itu Sekar minta direksi Telkom diisi oleh orang-orang yang tidak berambisi untuk melakukan merger Telkom.
"Kalau direksi yang sekarang mendukung merger, lebih baik diganti saja, semua" kata Wisnu. (ugo)