JAKARTA - Indonesia memiliki banyak sekali talenta di bidang teknologi informasi. Namun jika ingin menjadikan Indonesia layaknya Silicon Valley di Amerika Serikat, para pengembang tanah air harus berupaya keras agar tidak sekadar menjadi ‘tukang’ yang mengerjakan ‘pesanan’ orang lain.
Pengembang Indonesia harus mampu memikirkan produknya secara keseluruhan sehingga nantinya bisa mendapatkan pemasukan dari sana. Demikian pernyataan Developer Marketing Manager Nokia Indonesia Narenda Wicaksono kepada beberapa wartawan, Jumat (3/5/2011).
"Sebenarnya para pengembang lokal memiliki dasar dan potensi untuk bersaing dengan pengembang internasional. Sayangnya saat ini kebanyakan dari mereka hanya menjadi 'tukang jahit', dengan kata lain mereka mengembangkan produk untuk keuntungan orang lain," paparnya.
Selain itu, Narenda juga menggarisbawahi beberapa kelemahan utama pengembang lokal dalam bersaing dengan pengembang mancanegara.
"Desain atau grafis aplikasi sepertinya masih menjadi salah satu kelemahan utama. Saat ini, kalau dibandingkan aplikasi mancanegara, aplikasi lokal memang masih kesulitan menampilkan grafis luar biasa," ujar Narenda.
"Bukan hanya desain, mayoritas pengembang lokal biasanya masih fokus memikirkan teknologi pendukung aplikasi alih-alih produk itu secara keseluruhan. Akibatnya mereka tidak bisa menawarkan solusi yang tepat bagi pengguna," imbuhnya.
Terakhir, Narenda juga menyoroti kebiasaan pengembang lokal yang belum memikirkan kebutuhan konsumen, sehingga tidak menciptakan aplikasi yang fokus terhadap pasar tertentu. "Bisa jadi pengembang lokal kita masih terlalu idealis, jadi mereka mengembangkan aplikasi yang memang menarik untuk mereka sendiri," pungkasnya.
(van)