AMSTERDAM - Sebuah ide yang terkenal dengan nama "Proustian phenomenon" mengungkapkan bahwa bau yang khas, memiliki kekuatan lebih besar untuk membantu kita mengingat kenangan lama.
Teori ini dinamai menggunakan nama penulis Prancis, Marcel Proust, yang dalam novelnya À la Recherche du Temps Perdu (In Search of Lost Time) menggambarkan suatu tokoh yang dengan jelas mengingat kembali kenangan lama yang terlupakan, setelah mencium bau biskuit Madeleine dalam rendaman teh.
Diwartakan The Telegraph, Senin (30/1/2012), para ahli telah menunjukkan bahwa dampak khusus dari bau pada memori berhubungan dengan kedekatan syaraf pencium kita, yang membantu memproses bau, dengan amigdala dan hipokampus yang mengontrol emosi dan memori.
Tetapi meskipun teori tersebut terkenal sebagai anekdot, tidak ada penelitian mampu menegaskan keberadaan fenomena itu.
Sekarang peneliti bisa saja pergi selangkah lebih dekat menuju buktinya, setelah percobaan menunjukkan bau lebih dapat lebih detil membangkitkan kenangan yang merangsang dan kenangan yang tidak menyenangkan, ketimbang suara.
Sebuah tim dari Utrecht University, Belanda, merekrut 70 pelajar wanita dan mereka memainkan rekaman video yang dirancang untuk memprovokasi kebencian, seperti kecelakaan mobil dan laporan tentang pembantaian di Rwanda.
Sementara film itu diputar, bau cassis (aroma buah blackcurrant) dipompa ke dalam ruangan, kemudian lampu warna-warni yang diarahkan ke dinding belakang dan musik netral dimainkan di latar belakang.
Sepekan kemudian, para peserta diminta untuk mengingat kenangan mereka dari film sementara itu salah satu dari bau, lampu dan suara yang sama digunakan untuk merangsang memori mereka.
Meskipun lampu dan bau sama-sama efektif, mereka yang diberi bau cassis ingat rincian lebih lanjut tentang film dan menemukan kenangan mereka lebih tidak menyenangkan dan merangsang emosi ketimbang mereka yang diberi latar belakang musik sebagai pemicu memori.
Tim peneliti tersebut menulis dalam jurnal Cognition and Emotion bahwa temuan tersebut, "tidak mengkonfirmasi fenomena Proust", tetapi mengatakan temuan itu terbukti berguna untuk penelitian post-traumatic stress disorder, yang menyebabkan pasien mengulang dengan jelas pengalaman hidup yang menyakitkan.
Mereka menambahkan, "Temuan kami memperluas penelitian sebelumnya dengan menunjukkan bau cenderung lebih baik dalam memicu detil dan rangsangan memori ketimbang musik, yang telah sering disebut sebagai pemicu yang sama kuatnya." (tyo)