JAKARTA - Beberapa postingan di media sosial berujung pemecatan memang telah beberapa kali terjadi di luar negri. Setidaknya kasus ini bisa menjadi pelajaran untuk kita lebih berhati-hati menggunakan media sosial.
Salah satu bukti nyata dari kasus ini adalah John Flexman, seorang eksekutif di sebuah perusahaan dipaksa berhenti dari pekerjaannya. Masalah ini bermula ketika Flexman membuat marah atasannya, dengan menaruh CV lewat online dan iklan serta menyatakan bahwa dia tertarik dengan peluang karir yang lain.
Menurut Enda Nasution, penggiat media sosial saat dihubungi okezone, Selasa (21/2/2012), sebenarnya postingan pengguna di media sosial tidak harus berakhir dengan pemecatan. Karena saat ini juga sudah ada perusahaan yang memiliki peraturan berhubungan dengan digitalisasi.
"Sekarang sudah mulai dirasakan oleh perusahaan mengenai kebutuhan memiliki social media policy, yaitu untuk mengatur perilaku yang dianjurkan bagi karyawan di media sosial," jelas Enda.
Perilaku yang dianjurkan ini menurut Enda, selain postingan tentang atasan juga termasuk informasi perusahaan yang sifatnya rahasia. Kebijakan perusahaan pun mulai dari hal yang rumit sampai sederhana yang berkaitan dengan perusahaan.
Maka dianjurkan oleh Enda untuk menghindari masalah dengan penggunaan media sosial, jangan pernah membicarakan orang lain dibelakang mereka seperti menggunakan Twitter. "Kalau tidak akan ngomoong, jangan sindir di Twitter," pungkas Enda. (tyo)