PLTMH, Inovasi Baru Pembangkit Listrik Ramah Lingkungan

Ilustrasi (Foto: PLTMH Ciganas oleh PT Sumberdaya Sewatama dan Yayasan IBEKA)

PLTMH, Inovasi Baru Pembangkit Listrik Ramah Lingkungan
SUKABUMI - Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) ialah inovasi terbaru sebagai pembangkit listrik dengan memanfaatkan energi air. PLTMH diklaim sebagai instalasi pembangkit listrik dengan menggunakan teknologi yang mudah, sederhana dan ramah lingkungan.

"Kalau (PLTMH) ini nol persen, zero emision. Airnya yang digunakan dalam proses ini dapat dialirkan untuk irigasi atau (penggunaan untuk) air minum. Sehingga, tidak ada yang terbuang. Maka, ini disebut juga energi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan," tutur Christian Priatmoko, Product Engineer Sewatama kepada Okezone, Sabtu (30/6/2012).

Sistem pembangkit tenaga listrik yang dikembangkan PT Sumberdaya Sewatama ini, mampu memberikan daya output sebesar 100 KW. Sehingga, dapat digunakan untuk masyarakat di desa yang letaknya terpencil.

Christian mengatakan, prinsipnya sama seperti PLTA, mengalirkan air dari bendungan menuju water way, ditampung ke bak penampung dan dialirkan menuju turbin. Lalu diubah, dari mekanik ke elektrik melalui generator.

Perbedaannya dengan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), yakni jenis turbin serta kapasitas daya yang dihasilkan. "Mikro hidro, kapasitasnya saja yang membedakan dengan PLTA. Mikro hidro, daya output di bawah 1 megawatt," ujarnya.

"Ada konversi dari mekanik ke elektrik (melalui generator). Hal yang membedakan, hanya dari jenis turbin dan kapasitas yang dihasilkan. PLTA menghasilkan 10 megawatt," terangnya.

Selain itu, PLTMH memerlukan tinggi jatuh air hingga 50 meter. Menghasilkan daya output sebesar 100KW, maka dapat dimanfaatkan, serta dialirkan untuk 500 rumah warga.

Baru-baru ini Sewatama melakukan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) untuk warga Kasepuhan Adat Cipta Gelar, di kaki Gunung Halimun, Sukabumi, Jawa Barat. Penerapan PLTMH di wilayah tersebut, didukung dengan aliran sungai Ciganas yang potensial, serta hutannya yang masih terjaga.

"Di taman nasional gunung Halimun ini, sangat potensial. Selain hutannya masih terjaga karena belum terjamah orang, daerah tangkapan air ini juga masih luas. Sehingga, debitnya tidak akan berkurang," terangnya.

Apabila musim kemarau, yang mengakibatkan debit air menurun, maka daya output listrik yang dihasilkan tidak akan maksimal. "Kendala pada musim kemarau, air yang disalurkan untuk menggerakan turbin akan berkurang, maka outputnya dapat berkurang." paparnya. Sementara daya output akan maksimal, apabila curah hujan tinggi atau berada di musim penghujan. (fmh)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Google Bikin Sistem Cegah Pelanggaran Hak Cipta