Perlu Pandangan Sama Tangani Cyber Crime

|

ilustrasi cyber crime

 Perlu Pandangan Sama Tangani Cyber Crime
JAKARTA - Perbedaan persepsi orang terhadap definisi kejahatan dunia maya atau cyber crime menimbulkan kesulitan dalam proses penegakan hukumnya. Agar memudahkan penanganan, terlebih dahulu diperlukan kesepahaman dalam persepsi.

"Persepsi orang mengenai cyber crime di setiap negara 70 persen sama dan 30 persen berbeda," terang Sekretaris Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika, Djoko Agung Harijadi di sela-sela seminar Asia-Pacific Mock Court Exercise on Fighting Cybercrime, Jakarta, Selasa (18/9/2012).

Menurut Djoko, sebagain Negara memandang itu bukan kejahatan, tapi di Negara lain dipandang fatal. Misalkan, pornografi, di Eropa atau Amerika sesuatu yang wajar, akan tetapi bila pornografi anak-anak tetap fatal. “Sedangkan di Indonesia, baik pornografi anak-anak atau bukan tetap dipandang fatal,” lanjutnya.

Hal inilah yang menyulitkan dalam menegakkan hukum soal kejahatan dunia maya. Seperti contohnya, baru-baru ini marak beredar video film "Innocent of Muslims". Video tersebut bertentangan dengan hukum Indonesia, sehingga diblokir. Namun dari luar negeri tetap bisa diakses. "Kalau kita punya persepsi berbeda antar negara, penegakkan hukum susah," katanya.

Pemerintah Indonesia sendiri sudah mengajukan ke International Telecommunication Union soal menciptakan dunia maya yang aman. Usulan dari Indonesia adalah menerapkan kesamaan kriteria kejahatan di dunia nyata dan dunia maya. "Kalau di dunia nyata dinilai kejahatan, mari sama-sama menganggap di dunia cyber juga kejahatan," pungkas Djoko.
(amr)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Gratis iPhone 5C untuk Pembelian Macbook Air di Indocomtech