Teknologi Enkripsi untuk Dunia E-Commerce

Teknologi Enkripsi untuk Dunia E-Commerce

Ilustrasi

JAKARTA - Untuk diketahui, para korban menyadari akun Lazada-nya sempat diretas setelah menerima email konfirmasi pembelian dan pembayaran. Padahal mereka sama sekali tidak melakukan aktivitas pembelian di Lazada.

Cross site scripting, modus phising dengan inject script di web resmi juga kemungkinan dilakukan para pelaku.Sehingga user tidak sadar terjadi identity thieft atau pencurian username dan password.

“Kita mengapresiasi dengan adanya konfirmasi pembelian dan pembayaran. Namun tentu diperlukan model pengamanan sistem e-Commerce lebih dari itu. Adopsi two factor authentification serta teknologi enkripsi yang lebih kuat dan yang paling penting perbaikan model edukasi pada konsumen, terutama terkait official SMS dan email,” jelas Pratama Persadha, Chairman lembaga riset keamanan cyber CISSReC (Communication and Information System Security Research Center).

Pratama juga berharap ke depan pemerintah lebih bisa mengatur regulasi e-Commerce agar keberadaanya tidak hanya mengeruk pundi rupiah dari masyarakat, tapi juga memastikan keamanannya.

“Selama ini yang ramai tentang e-Commerce hanya soal pajak saja. Dengan kejadian ini semoga pemerintah bisa cukup perhatian untuk memaksa e-Commerce yang beroperasi di Indonesia mau menerapkan standar keamanan yang tinggi, sehingga masyarakat tidak perlu lagi khawatir,” tegasnya.

Data Kemenkominfo sendiri menunjukkan kenaikan signifikan transaksi e-Commerce di Indonesia. Diperkirakan nilai transaksi e-Commerce 2016 mencapai USD4,89 miliar, naik dari 2015 sebesar USD3,56 miliar.

(ahl)

Baca Juga

<i>Duh</i>! 6 <i>Meme</i> Paskibra ala <i>Netizen</i> Ini <i>Bikin</i> Kamu Cengar-cengir Sendiri

Duh! 6 Meme Paskibra ala Netizen Ini Bikin Kamu Cengar-cengir Sendiri