Ketika Operator Ribut 'Bagi-Bagi Kue' di Interkoneksi

Ketika Operator Ribut 'Bagi-Bagi Kue' di Interkoneksi

Komisi I DPR RI hari ini mendatangkan para pimpinan operator telekomunikasi (Foto: Kustin Ayuwuragil Desmuflihah/Okezone)

JAKARTA - Komisi I DPR RI hari ini mendatangkan keenam pimpinan operator yang masih beroperasi di Indonesia yaitu Telkom, Telkomsel, Hutchinson 3 Indonesia (Tri), XL Axiata, Indosat Ooredoo, dan Smartfren ke Gedung Nusantara II.

Setelah penjelasan panjang lebar keenam operator, Anggota Komisi I DPR Effendi Simbolon menggarisbawahi bahwa permasalahan utama terkait interkoneksi adalah soal "bagi-bagi kue".

Pada mulanya, rapat dengar pendapat dibuka dengan penjelasan bos Telkom dan bos Telkomsel yang diwakili Alex J Sinaga dan Ririek Adriansyah mengenai hitung-hitungan bagaimana tarif interkoneksi yang akan diimplementasikan tersebut bisa merugikan perusahaan. Telkom grup menegaskan bahwa mereka menolak tarif interkoneksi baru dan mengusulkan metode asimetris.

Di sisi lain, Dian Siswarini, CEO XL Axiata yang satu suara dengan Presiden Direktur PT Smartfren Telecom, Merza Fachyz dari Smartfren dan Danny Buldansyah, Vice President Director Hutshison Tri Indonesia mengatakan bahwa tarif interkoneksi Rp204 Sebenarnya masih terlalu kecil. Mereka mengharapkan tarif tersebut bisa turun lagi karena mereka merasa membayar terlalu mahal pada operator lain dengan harga yang sekarang Rp250.

CEO Indosat Ooredoo, Alexander Rusli juga menambahkan bahwa operator non-Telkom berkomitmen untuk membangun di luar Jawa. Namun mengakui bahwa "kakak tertua" alias Telkom tetap memiliki jaringan terluas. Oleh karena itu, dia meminta kesempatan untuk bisa berkembang melalui harga interkoneksi yang diturunkan.

"Kalau harga interkoneksi turun, kami bisa memberikan layanan lain yang lebih menarik untuk pelanggan. Interkoneksi masih menjadi barrier sehingga harga murah untuk pelanggan itu masih pada daerah-daerah tertentu bersifat terbatas," ujar Alex.

Effendi menanggapi bahwa permasalahan ini hanya masalah bagi-bagi kue karena operator lain juga ingin kebagian kue yang saat ini besar dimiliki oleh Telkom Grup.

"Secara highlight saya bisa melihat ketidakadilan dalam berbisnis. Jadi ada pihak yang merasa sudah memenuhi kewajibannya dan kemudian pihak yang lainnya ingin ikut juga diperlakukan sama. Poinnya terang benderang, keberatan karena ada yang tidak fair yang terjadi antara operator. Tapi nggak apa-apa karena ini outputnya untuk pelanggan," kata Effendi.

Menurutnya, paparan dari CEO XL, Dian Siswarini dan empat bos operator lainnya serupa. Effendi Simbolon menangkap bahwa operator menginginkan keadlian di industri telekomunikasi.

"Yang saya perlukan dari keenam operator ini adalah mendapatkan kepastian bahwa empat operator ini merasa dalam tanda kutip diuntungkan. Jadi ada pihak-pihak yang merasa diuntungkan, tetapi ada juga pihak yang merasa kewajibannya didomplengi," terangnya.

Effendi menambahkan bahwa perlu diselidiki lagi apakah boleh keempat operator ini mengambil keuntungan dari carrier yang lain. "Apakah ini dibenarkan Undang-Undang atau peraturan. Oleh karena itu, Komisi I DPR RI meminta masing-masing operator untuk menyerahkan balance sheet untuk digunakan sebagai bahan rapat dengan Menkominfo, Selasa, 30 Agustus," jelasnya.

(kem)

Baca Juga

Operator Telekomunikasi Ramai-Ramai Bantu Korban Banjir di Garut

Operator Telekomunikasi Ramai-Ramai Bantu Korban Banjir di Garut