Pengajuan Tarif Interkoneksi per Menit Operator ke DPR

Pengajuan Tarif Interkoneksi per Menit Operator ke DPR

Ilustrasi BTS

JAKARTA - Enam operator Indonesia yaitu Telkom, Telkomsel, Hutchinson 3 Indonesia (Tri), XL Axiata, Indosat Ooredoo, dan Smartfren memenuhi panggilan Komisi I DPR pada Kamis, 25 Agustus 2016.

Pemaparan oleh masing-masing operator menunjukkan bahwa cost recovery yang juga menjadi salah satu dasar penghitungan proposal tarif interkoneksi berbeda-beda. Inilah yang menyebabkan penentuan tarif di Rp204 masih dianggap kontroversial.

Dari pemaparan CEO Telkom Group Alex J. Sinaga dan Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah diketahui bahwa Telkom menggunakan perhitungan 2013 di tarif interkoneksi yang saat ini berlaku. Tidak untung atau pun rugi karena biaya jaringan Rp250.

Namun jika ditetapkan sesuai surat edaran Rp204 per menit maka akan rugi karena cost recovery-nya menurut konsultan menjadi Rp285. Inilah harga interkoneksi yang diajukan Telkomsel ke DPR.

Di sisi lain, dalam hitung-hitungan XL Axiata tarif 65 per menit dirasa pas. Untuk Smartfren cost recovery-nya berada di Rp100, Indosat Ooredoo Rp86, dan Tri Rp120.

Perbedaan "harga ideal" masing-masing operator ini terkait dengan investasi tiap operator yang berbeda-beda untuk wilayah bisnisnya. Belum lagi asumsi-asumsi, parameter yang digunakan dalam penghitungan juga berbeda.

Komisi I DPR kemudian menanyakan komitmen para operator ini kepada pelanggan mereka. Telkomsel berjanji membangun 15 ribu BTS hingga 2018. Sementara itu, XL dan Indosat Ooredoo berjanji akan menurunkan harga retail jika tarif interkoneksi turun.

(ahl)

Baca Juga

Begini Skema Proyek Palapa Ring

Begini Skema Proyek Palapa Ring