Bos Smartfren Angkat Bicara soal Polemik Tarif Interkoneksi

Bos Smartfren Angkat Bicara soal Polemik Tarif Interkoneksi

Bos Smartfren Angkat Bicara Soal Polemik Tarif Interkoneksi

JAKARTA - Polemik perubahan tarif interkoneksi masih terus bergulir. Pasalnya, belum ada kata mufakat di kalangan para operator telekomunikasi Indonesia. Padahal, tarif interkoneksi terbaru diharapkan berlaku pada 1 September.

Presiden Direktur Smartfren Merza Fachys mengatakan, perubahan tarif interkoneksi adalah masalah yang sudah didiskusikan sejak tahun lalu di kalangan para operator

"Kita debat ini dari tahun lalu, karena diskusi ini akan panjang dan kita punya ritual tiga tahunan untuk menghitung dan mengevaluasi biaya interkoneksi ini. Pada awalnya, hasil review interkoneksi diharapkan berlaku september ini. Nah ternyata sudah satu tahun lebih, kita tidak pernah sepakat," ujarnya ketika ditemui di sela-sela acara ICT Summit 2016, Rabu (31/8/2016).

Ia melanjutkan bahwa Pemerintah dalam hal ini memberikan jalan tengah kepada para operator. "Dalam regulasi dikatakan, jika para operator tidak mencapai kesepakatan, maka menterilah yang turun tangan. Dia menyuruh BRTI untuk mereview itu semuanya dan mengeluarkan referensi tarif yang tepat, itulah yang disepakati," tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa surat edaran itu hanya digunakan sebagai referensi penetapan tarif untuk kalangan Operator. Selebihnya, untuk penetapan tarif merupakan keputusan yang bersifat B2B (Business to Business).

"Pemerintah tidak menetapkan apa-apa. Biaya interkoneksi ditetapkan antar operator, tapi referensinya dikasih oleh BRTI yang katanya akan ditetapkan pada 1 September. Itu tidak wajib kok, menteri tidak wajib menetapkan operator soal interkoneksi ini," lanjutnya.

Untuk masalah penetapan tarif interkoneksi, seluruh operator akan mulai mengajukan DPI (daftar penawaran interkoneksi) kepada operator lain. "Khusus untuk operator dominan, yaitu yang menguasai market 25% itu DPI-nya (daftar penawaran interkoneksinya) harus disetujui oleh BRTI."

Sayangnya, ia belum mau menjelaskan mengenai turunnya tarif Retail jika biaya interkoneksi turun. Menurutnya, perlu perhitungan lebih lanjut untuk mengetahui hal tersebut.

(kem)

Baca Juga

Operator Seluler Jaga Kualitas Jaringan di Area Aksi Damai 212

Operator Seluler Jaga Kualitas Jaringan di Area Aksi Damai 212