Kelelawar Ubah Strategi Berburu Gara-Gara Kebisingan Kota

Kelelawar Ubah Strategi Berburu Gara-Gara Kebisingan Kota

Kelelawar (Foto: The Verge)

CALIFORNIA - Berdasarkan studi terbaru, kelelawar bisa beradaptasi dengan suara manusia dengan mengubah strategi berburu mereka.

Menurut penelitian yang diterbitkan belum lama ini di Science, untuk menemukan makanan di lingkungan yang bising, kelelawar tidak hanya mengandalkan pendengaran, tetapi ia juga mengaktifkan echolocation. Ini adalah pertama kalinya para ilmuwan menunjukkan kelelawar dapat mengganti sistem sensorik, dan itu menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana hewan lainnya beradaptasi dengan kebisingan.

Kelelawar, mamalia yang bisa terbang ini sangat rentan terhadap kebisingan karena mereka menggunakan echolocation untuk berkeliling. Mereka pada dasarnya menggunakan gelombang suara dan gema untuk menentukan di mana objek berada. Satu studi pada 2010 menunjukkan bahwa kelelawar membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencari mangsa mereka ketika berburu di sekitar jalan raya. Pasalnya, lalu lintas membuat kelelawar lebih sulit mendengar gemerisik suara yang dibuat oleh serangga dan laba-laba.

"Ini sangat penting untuk menunjukkan bahwa hewan bisa mengatasi (noise). Namun beberapa hewan mungkin tidak bisa," kata Brock Fenton, orang yang mempelajari perilaku dan ekologi kelelawar di Universitas Western, namun tidak terlibat dalam penelitian ini.

Suara manusia yang datang dari kota, jalan raya, pabrik, dan bidang pertanian menempatkan tegangan besar pada lingkungan. Ini membuat hewan sulit mendeteksi mangsa atau mendengar predator yang mendekat. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan, suara buatan manusia terkait dengan tingkat kematian yang lebih tinggi untuk hewan tertentu dan ini mengganggu komunikasi dengan yang lain.

"Ini memiliki efek besar pada hewan dan tumbuhan," tambah Fenton yang dilansir The Verge, Jumat (16/9/2016).

Oleh sebab itu, para peneliti saat ini ingin melihat apakah kelelawar menggunakan strategi alternatif untuk beradaptasi dengan kebisingan ketika berburu. Peneliti ini bagaimanapun memiliki implikasi penting bagi kelangsungan hidup kelelawar dan hewan lainnya di masa depan.

Hampir 4 miliar orang di dunia sudah tinggal di kota, dan jumlah itu diperkirakan akan tumbuh menjadi 6,5 miliar pada 2050. Ini artinya, dampak suara kebisingan manusia terhadap ekosistem terus meningkat. Mengetahui bagaimana cara hewan mengatasi kebisingan dan beradaptasi dengan itu, memberi tahu kita bagaimana mereka di masa depan.

(din)

Baca Juga

Pertama di Dunia,Anak Lahir dengan Tiga DNA Orangtua