Operator Luar Negeri Lepas Saham, Tanda Telekomunikasi Indonesia Merugi?

Operator Luar Negeri Lepas Saham, Tanda Telekomunikasi Indonesia Merugi?

Ilustrasi (foto:Marcopolis)

JAKARTA - Rumor mengenai pelepasan saham yang akan dilakukan oleh Axiata terhadap anak perusahaannya di Indonesia dianggap sebagai sinyal negatif bagi Industri Telekomunikasi Indonesia.

Pandangan itu diungkapkan oleh mantan komisioner BRTI, Heru Sutadi, ia menilai bisnis telekomunikasi di Indonesia cenderung mengalami penurunan. "Bisnis telekomunikasi di Indonesia sudah tidak menarik bahkan cenderung merugikan pemain di luar perusahaan plat merah. Intinya, hampir semua merugi," ujarnya kepada Okezone, Rabu (12/9/2016).

Pendapat serupa juga dilontarkan oleh Nonot Harsono, mantan komisioner BRTI. Ia menyebut bahwa rencana penjualan saham oleh Axiata adalah wajar. "Iya wajar karena dalam beberapa tahun terakhir terus merugi," ujarnya.

Salah satu penyebab penurunan ini adalah perubahan tren yang terjadi di industri telekomunikasi. Di masa sekarang, layanan data adalah senjata utama para operator. "Krisis global dan perubahan demand masyarakat dari voice/sms ke internet multimedia, tidak diikuti dengan penyesuaian network- pricing-strategy. Akhirnya, operator saling membunuh," ujar Nonot.

Selain perubahan tren, keterlibatan pemain OTT asing dalam menyediakan jaringan juga disinyalir dapat memperkeruh industri telekomunikasi. Seperti diketahui, Google memiliki Project Loon, sedangkan Facebook memiliki proyek satelit AMOS-6. Bukan tidak mungkin jika di masa depan, Facebook dan Google menyediakan layanan telekomunikasi.

Seperti diketahui sebelumnya, Axiata dikabarkan siap melepas 11 persen sahamnya di XL. Selain di Indonesia, Axiata juga siap melepas saham miliknya di beberapa operator lokal lainnya, Dialog Axiata Plc (Sri Lanka) dan Smart Axiata Co (Kamboja).

(kem)

Baca Juga

Operator Seluler Jaga Kualitas Jaringan di Area Aksi Damai 212

Operator Seluler Jaga Kualitas Jaringan di Area Aksi Damai 212