KPPU Setujui Alcatel Diakuisisi Nokia

KPPU Setujui Alcatel Diakuisisi Nokia

(Foto: Dok. Tim Okezone)

JAKARTA - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) telah merampungkan proses penilaian terhadap akuisisi Alcatel-Lucent SA oleh Nokia Corporation. Nokia Corporation merupakan pelaku usaha yang berkedudukan di Finlandia, sedangkan Alcatel-Lucent SA berkedudukan di Prancis.

Nokia dan Alcatel melakukan kegiatan usaha di Indonesia baik secara langsung maupun tidak langsung. Transaksi akuisisi ini terjadi di Perancis yang berlaku efektif secara yuridis pada 7 Januari 2016.

Nokia Corporation wajib melakukan pemberitahuan kepada KPPU karena nilai aset dan nilai penjualan gabungan hasil akuisisi memenuhi ketentuan PP No. 57 Tahun 2010.

KPPU melakukan penilaian terhadap akuisisi Alcatel oleh Nokia sejak 15 Juni 2016. Dalam proses penilaian tersebut, KPPU melakukan penelitian terhadap struktur pasar di industri jaringan telekomunikasi dan melakukan diskusi dengan pelaku usaha pemasok, pelaku usaha pesaing, konsumen, dan ahli di bidang industri jaringan telekomunikasi.

Dari hasil penilaian tersebut, KPPU berpendapat bahwa transaksi akuisisi Alcatel-Lucent SA oleh Nokia Corporation tidak mengakibatkan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.

Meskipun demikian Ketua KPPU RI, Muhammad Syarkawi Rauf mensyaratkan kepada Nokia Corporation sejumlah hal, pertama, agar Nokia menjamin keberlangsungan produk Alcatel atau menawarkan solusi alternatif/pengganti apabila terdapat produk yang out of date.

"Kedua, senantiasa menjunjung prinsip fairness, reasonable, and non discriminatory dalam melakukan kegiatan usaha di bidang jaringan telekomunikasi," ujarnya kepada Okezone, Rabu (19/10/2016).

Syarkawi juga mensyaratkan agar merger internasional ini, yaitu kedua perusahaan memperhatikan kepentingan Industri telekomunikasi di Indonesia, dalam hal ini dukungan terhadap peningkatan efisiensi operator telekomunikasi di Indonesia.

"Adanya international merger ini agar tidak merugikan kepentingan konsumen atau end user telekomunikasi di Indonesia dengan biaya telekomunikasi yang mahal. Tidak terjadi penyalahgunaan posisi Nokia yang semakin kuat di pasar," pungkasnya.

(kem)

Baca Juga

13 Tahun di Smartfren, Ini Alasan Sukaca Hengkang

13 Tahun di Smartfren, Ini Alasan Sukaca Hengkang