Kekurangan Slot Orbit, Indonesia Upayakan Tambah 'STNK' Satelit

Kekurangan Slot Orbit, Indonesia Upayakan Tambah 'STNK' Satelit

Kekurangan Slot Orbit, Indonesia Upayakan Tambah 'STNK' Satelit

JAKARTA - Dirjen Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika, Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Ismail Akhmad menjelaskan bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak satelit untuk kebutuhan transmitter responder (transponder).

Indonesia baru punya 12 transponder dari enam satelitnya, padahal kebutuhan komunikasi di Indonesia bisa terpenuhi jika ada 100 transponder.

Enam satelit yang saat ini beroperasi merupakan kepemilikannya Telkom (2), Indosat (1), Bank Rakyat Indonesia (BRI) (1), PT Media Citra Indostar (MCI) (1) dan PT. Pasifik Satelit Nusantara (1). Seharusnya ada satu lagi dari jatah tujuh slot orbit bagi Indonesia.

Jika Indonesia butuh penambahan transponder, secara otomatis negara perlu menambahkan satelit dan slot orbit untuk satelit itu sendiri.

"(Ada tujuh slot orbit) beberapa tahun ini tidak bertambah. Usaha kita ke depan menambah slot orbit, jadi tantangan pemerintah harus agresif, tidak perlu menunggu perusahaan yang akan meluncur. Kalau perlu negara mendaftar untuk slot orbit," papar Ismail ketika pembukaan seminar peringatan '40 Tahun Satelit Indonesia Mempersatukan Nusantara', di Jakarta, Kamis (27/10/2016.

Di tengah kurangnya orbit dan satelit, Indonesia sempat hampir kehilangan satu orbit karena kegagalan peluncuran satelit Telkom-3 pada 7 Agustus 2012 sehingga kewajiban Indonesia untuk mengisi filing satelit Palapa C3K tidak berhasil. Padahal, filing satelit ini seperti STNK yang mengizinkan sebuah negara mengoperasikan satelit di suatu orbit.

Beruntungnya, Indonesia berhasil menyelamatkan filing satelit Palapa-C3K pada slot orbit 118 agar tidak dihapus dari kepemilikan Indonesia. Pasalnya, sesuai peraturan internasional, orbit tersebut seharusnya sudah dihapuskan karena peluncurannya tidak sesuai dengan tenggat waktu yang diberikan ITU yaitu pada 6 Juni 2016. dan diperpanjang tenggat waktu hingga 6 Juli 2017.

(kem)

Baca Juga

Operator Seluler Jaga Kualitas Jaringan di Area Aksi Damai 212

Operator Seluler Jaga Kualitas Jaringan di Area Aksi Damai 212