Fosil Berusia 130 Juta Tahun Ini Masih Mengandung Protein

Fosil Berusia 130 Juta Tahun Ini Masih Mengandung Protein

Fosil Burung Dinosaurus berusia 130 juta tahun. (Foto: Live Science)

WASHINGTON - Berdasarkan studi terbaru, struktur pigmen mikroskopis berupa protein masih ditemukan pada sebuah fosil. Hewan crestaceous tersebut merupakan seekor burung purba yang diketahui mati pada 130 tahun lalu.

Hasil dari penelitian oleh ilmuwan mengonfirmasi adanya bukti struktural protein beta karoten yang menunjukkan bahwa molekul tersebut dapat selamat di dalam jasad burung selama beberapa ratus juta tahun.

Sebagaimana dilansir Live Science, Sabtu (26/11/2016), peneliti menggunakan teknik modern dalam mengidentifikasi fosil temuannya tersebut.

Jenis burung yang telah menjadi fosil bernama Eoconfuciusornis yang merupakan seukuran gagak dan hidup di utara China pada era crestaceous.

Pada awal penelitian, ilmuwan menemukan struktur pigmen yang disebut melanosomes. Struktur pigmen tersebut kemudian yang menjadi tanda keberadaan adanya beta karoten pada bagian bulu.

"Jika tubuh kecil tersebut merupakan melanosomes, seharusnya terdapat keratin matriks, karena bulu-bulu mengandung beta karoten," ungkap Mary Schweitzer, profesor dari Universitas North Carolina State.

Guna mengetahui lebih lanjut soal kandungan tersebut, Mary dan ilmuwan lainnya menggunakan alat pemindai dan transmisi mikroskopis elektron untuk mendapatkan tampilan yang lebih baik.

Setelah melalui beberapa tahap penelitian dan pengujian, tim ilmuwan tersebut kemudian dapat menyimpulkan bahwa spesimen Eoconfuciusornis memiliki melanosomes berusia 130 juta tahun tanpa terkontaminasi selama fosilisasi.

"Studi ini adalah yang pertama untuk menunjukkan bukti keratin dan melanosom menggunakan struktural, kimia, dan metode molekuler," kata penulis studi Yanhong Pan, seorang peneliti di Nanjing Institute Geologi dan Paleontologi di Chinese Academy of Sciences.

"Metode ini memiliki potensi untuk membantu kita memahami pada tingkat molekuler bagaimana dan mengapa bulu berkembang di garis keturunan ini," pungkasnya.

(kem)

Baca Juga

Pluto Rupanya Punya Lautan yang Tak Boleh Diselami

Pluto Rupanya Punya Lautan yang Tak Boleh Diselami