Mengapa Tahun Baru Dirayakan pada 1 Januari?

Mengapa Tahun Baru Dirayakan pada 1 Januari?

Foto: Live Science

JAKARTA – Di pengujung 2016, banyak orang yang sudah mulai mempersiapkan diri untuk memasuki awal yang baru. Seperti kebanyakan negara lain di dunia, Indonesia memulai tahun baru pada 1 Januari. Namun, pernahkan Anda bertanya mengapa demikian?

Menurut Live Science, tahun baru sebenarnya tidak selalu jatuh pada 1 Januari. Hal itu masih berlaku hingga saat ini di kebudayaan tertentu.

Pada awalnya, Mesopotamia kuno merayakan festival 12 hari untuk Tahun Baru Assyria pada vernal equinox, sementara orang-orang Yunani berpesta di sekitar titik balik matahari musim dingin, pada 20 Desember. Menurut sebuah artikel 1940 di jurnal Proceedings of the American Philosophical Society, sejarawan Romawi, Censorius, melaporkan bahwa orang Mesir merayakan lap lain di sekitar matahari pada 20 Juli.

Selama era Romawi, Maret menandai awal kalender. Kemudian pada 46 SM, Julius Caesar menciptakan kalender Julian, yang mengatur tahun baru jatuh pada 1 Januari. Namun, Julius Caesar diketahui tidak bisa memberikan standardisasi hari. Perayaan awal tahun terus melayang bolak-balik dalam kalender, bahkan mendarat pada Hari Natal di beberapa titik, sampai Paus Gregorius XIII mengerjakan kalender Gregorian pada 1582.

Kalender Gregorian adalah upaya agar kalender berhenti membuat bingung sehubungan dengan musim. Karena kalender Julian memiliki lompatan ekstra untuk beberapa tahun dari yang diperlukan, begitu pada 1500-an, hari pertama musim semi datang 10 hari sebelumnya.

Meskipun pemilihan tahun baru pada dasarnya sewenang-wenang dari perspektif planet, ada satu peristiwa astronomi yang mencatat bahwa tahun baru memang terjadi sekitar waktu ini. Sebab, bumi berada paling dekat dengan matahari pada awal Januari, titik yang dikenal sebagai perihelion.

Saat ini, 1 Januari hampir secara universal diakui sebagai awal tahun, meskipun ada beberapa negara seperti Afghanistan, Ethiopia, Iran, Nepal, dan Arab Saudi yang bergantung pada konvensi penanggalan mereka sendiri. Beberapa agama juga merayakan tahun baru dengan waktu yang berbeda.

Misalnya, kalender Yahudi adalah lunar dan festival tahun baru mereka, Rosh Hashanah, biasanya dirayakan antara September dan Oktober. Kalender Islam yang juga lunar, waktu tahun barunya berbeda dengan tanggal masehi secara signifikan. Misalnya, pada 2008, Tahun Baru Islam dirayakan pada 29 Desember, sementara itu Tahun Baru Islam pada 2017 akan datang pada 22 September. Begitu juga dengan kalender China yang juga lunar meski tahun baru mereka biasanya jatuh antara 21 Januari dan 20 Februari.

(kem)

Baca Juga

Fakta atau Mitos, Benarkah Telur Berbintik Mengandung Penyakit

Fakta atau Mitos, Benarkah Telur Berbintik Mengandung Penyakit