Ini Alasan CEO Indosat Ooredoo Lebih Jatuh Cinta dengan 2G

Ini Alasan CEO Indosat Ooredoo Lebih Jatuh Cinta dengan 2G

Foto: Okezone/ Kustin Ayuwuragil

JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatikan (Kemenkominfo) berharap dapat membuat industri telekomunikasi Indonesia menjadi efisien dengan menutup 2G pada 2020. Teknologi 2G dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang haus data.

Namun, President Director & Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Alexander Rusli sempat mengungkapkan pandangannya bahwa seharusnya sinyal 3G saja yang ditutup. Saat bertemu dengan Okezone dalam di acara sharing seasson SINDO, Jakarta, Rabu (8/3/2017),  Alex menjelaskan argumennya lebih lanjut.

“3G secara teknologi lebih buruk daripada 2G karena ada interference, mati semua jadi ada gangguan. Kalau di 4G itu lebih resilient untuk voice. Jadi secara teknologi, perhatiin nggak kalau sinyal 2G cuma satu bar masih lancar [telepon] ngomongnya tapi kalau signal 3G satu bar telepon pun kadang-kadang susah,” kata Alex.

Jika harus memilih, Alex akan menggunakan salah satu dari kanal 2G atau 3G, maka pihaknya bakal lebih memilih untuk mempertahankan 2G. Bahkan, lulusan University of Technology ini mengatakan bahwa Indosat Ooredoo membangun 2G dan 4G saja di beberapa daerah di luar Jawa.

“Kalau kami pikir yang lebih bagus itu 2G. Kami ada beberapa daerah yang diluncurkan cuma ada 2G dan 4G nggak ada 3G sama sekali di luar Jawa. 3G hanya nambah kapasitas, 4G nambah coverage dan kapasitas,” pungkasnya.

(kem)

Baca Juga

Permen Lelang Frekuensi 2,1 dan 2,3 GHz Mundur hingga Mei 2017

Permen Lelang Frekuensi 2,1 dan 2,3 GHz Mundur hingga Mei 2017