Equinox, BMKG Prediksi Suhu Udara Maksimal 34 Derajat

Equinox, BMKG Prediksi Suhu Udara Maksimal 34 Derajat

Ilustrasi

BANJARBARU - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Klimatologi (BMKG) Banjarbaru, Kalimantan Selatan, mengimbau seluruh masyarakat untuk tidak mengkhawatirkan dampak equinox. Pada Senin atau 20 Maret 2017, matahari tepat berada di garis khatulistiwa (ekuator).

“Kami mengimbau masyarakat tidak mengkhawatirkan dampak equinox,” ujar Kasi Data dan Informasi BMKG Staklim Klas I Banjarbaru Miftahul Munir di Kota Banjarbaru.

Pernyataan itu menjawab isu melalui pesan broadcast yang menyebar di media sosial terkait fenomena equinox yang melanda Singapura, Malaysia, dan Indonesia selama 5 hari ke depan.

Isi pesan itu menyebutkan dampak equinox akan meningkatkan suhu yang cukup signifikan hingga mencapai 40 derajat celcius sehingga masyarakat diminta berdiam diri di rumah. Padahal, informasi itu tidak benar.

“Saat ini suhu udara rata-rata 27 derajat Celcius dan saat equinox suhu diperkirakan antara 32-34 derajat Celsius sehingga masih dalam suhu yang normal,” ungkapnya.

Dijelaskannya, equinox adalah fenomena alam saat matahari melintasi khatulistiwa dan terjadi sebanyak dua kali dalam satu pekan, yakni pada 20-21 Maret dan 22-23 September.

Ia mengatakan, posisi Kalsel terletak pada lintang selatan antara 2-4 derajat atau sangat dekat dengan ekuator. Karena itu, matahari tepat di atas Kalsel terjadi sebelum 20 Maret dan sesudah 23 September. Sedangkan di bagian selatan Indonesia, matahari tepat di atas Pulau Jawa dan sekitarnya pada awal Maret dan awal November.

“Tidak ada pengaruh suhu signifikan dan suhu panas yang terjadi saat ini lebih dikarenakan fenomena akibat gelombang MJO lewat yang menekan turunnya hujan di pertengahan Maret,” jelasnya.

Ditekankan, fenomena alam tersebut merupakan peristiwa biasa akibat bumi mengelilingi matahari dan dampak yang paling jelas adalah panjang siang dan malam sama di seluruh muka bumi.

Dikatakan, Equinox bukan merupakan fenomena seperti heat wave (gelombang panas) yang terjadi di Afrika, Timur Tengah, atau Asia selatan yang dapat mengakibatkan peningkatan suhu udara secara besar dan bertahan lama.

“Equinox di Indonesia terjadi satu hari dan tahun ini terjadi pada 20 Maret 2017 pukul 17.29 WIB dan 23 September 2017 pukul 03.02 WIB sehingga di Kalsel sudah malam,” ujarnya.

Sebelumnya, Deputi Bidang Klimatologi BMKG Mulyono Rahadi Prabowo membenarkan bahwa setiap Maret akan terjadi fenomena equinox. Namun, menurutnya, equinox merupakan sebuah fenomena normal yang terjadi selama beberapa hari setiap tahun, yakni setiap Maret dan September ketika matahari tepat berada di garis khatulistiwa.

“Kalau kejadian equinox itu sebenarnya kejadian normal karena matahari itu secara semu memang berpindah-pindah tempat dari waktu ke waktu kurang lebih setiap empat hari itu akan bergeser 1 derajat. Jadi, pada 21 Maret, matahari itu memang berada di garis ekuator [khatulistiwa],” jelas Mulyono.

Konsekuensinya, sebagai negara di sekitar khatulistiwa (equator), suhu udara lebih hangat dibandingkan kondisi di tempat yang jauh dari ekuator. Saat matahari berada di garis ekuator, daerah paling dekat dengan ekuator lebih hangat.

Namun, menurutnya, fenomena ini tidak lantas akan membuat suhu di wilayah yang dilalui garis khatulistiwa meningkat secara drastis. Suhu tertinggi selama berlangsungnya fenomena ini akan berkisar antara 25-33 derajat Celcius tergantung pada topografi wilayahnya.

(ahl)


Baca Juga

Pantauan Hilal Bisa Dilihat via <i>Streaming</i>

Pantauan Hilal Bisa Dilihat via Streaming