Operator Harus Fokus ke Kualitas Ketimbang Tarif Telefon Rp1

Operator Harus Fokus ke Kualitas Ketimbang Tarif Telefon Rp1

(Foto: News X)

JAKARTA - Perang tarif di kalangan operator seluler sebenarnya bisa berakibat pada keberlangsungan bisnis telekomunikasi itu sendiri. Dengan membanting harga, operator seluler akan merugi dan tak mendapatkan kenaikan untung.

Oleh karena itu, Anggota Masyarakat Telematika (Mastel) Institute Nonot Harsono menjelaskan, operator seluler sebaiknya memperhatikan aspek kualitas layanan dibandingkan terus mempromosikan harga yang murah.

"Sebaiknya berkompetisi di kualitas, bukan kompetisi harga," kata Nonot melaui pesan instan kepada Okezone, Kamis (18/5/2017).

Ia pun menjelaskan, jika operator memberlakukan tarif telefon Rp1 per detik, maka diperkirakan mereka telah memberikan subsidi sebesar Rp190 per menit secara off-net (lintas operator). Hal itu berdasarkan perhitungan tarif Rp1 per detik (Rp60/menit) dengan tarif interkoneksi saat ini Rp250 per menit.

Sementara untuk biaya on-net (sesama operator) sebesar Rp85 per menit, maka operator telah memberi subsidi Rp275 per menit. "Ini jual rugi," imbuhnya.

Senada dengan Nonot, Analis Saham PT Bahana Securities, Leonardo Henry Gavaza mengatakan, apa yang dilakukan oleh operator akan membuat persaingan di industri tersebut tak sehat. Sebab, operator akan mengalami penurunan laba dan bisa berimbas pada keberlangsungannya.

"Jika profitabilitas terganggu dipastikan akan berdampak serius pada revenue dan net profit. Revenue dan net profit perseroan akan kembali terseok-seok. Terlebih, tarif data yang dipromosikan saat ini sudah terbilang sangat murah," kata Henry.

Lebih lanjut, jika operator dominan melakukan hal yang sama maka akan berdampak pada operator yang lebih kecil jumlah penggunanya. Maka hal ini bisa mematikan bisnis operator lain dan yang dominan akan semakin dominan.

(kem)

Baca Juga

Menkominfo Tanggapi Santai Laporan Ombudsman RI

Menkominfo Tanggapi Santai Laporan Ombudsman RI